Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemeritah Terapkan Inovasi Pakan Lobster, Ini Hasilnya

Budidaya lobster tengah dipacu untuk mendukung kebangkitan perekonomian yang terdampak pandemi Covid-19. Untuk Guna optimalisasi kegiatan budidaya ini, pemerintah menerapkan inovasi pakan.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 14 November 2020  |  23:40 WIB
Pelatihan pembesaran maupun uji coba pembesaran lobster sampai ukuran 250 gram ini merupakan upaya yang baik. Tapi lebih penting lagi adalah bagaimana membangun komunitas budidaya lobster ini, yang mana semuanya bisa hidup secara berdampingan, damai, sejahtera, dan bisa mengembangkan dirinya.  - kkp
Pelatihan pembesaran maupun uji coba pembesaran lobster sampai ukuran 250 gram ini merupakan upaya yang baik. Tapi lebih penting lagi adalah bagaimana membangun komunitas budidaya lobster ini, yang mana semuanya bisa hidup secara berdampingan, damai, sejahtera, dan bisa mengembangkan dirinya. - kkp

Bisnis.com, JAKARTA – Budidaya lobster tengah dipacu untuk mendukung kebangkitan perekonomian yang terdampak pandemi Covid-19. Untuk Guna optimalisasi kegiatan budidaya ini, pemerintah menerapkan inovasi pakan.

Cara yang dilakukan adalah dengan membangun percontohan inovasi pakan pembesaran lobster pasir di Desa Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Percontohan ini akan dikelola oleh Pokdakan Geger Girang di lahan seluas 1.360 m2 dengan omzet sekitar Rp690 juta per tahun.

Kelompok ini melakukan kegiatan pembesaran lobster dalam tiga segmen, yaitu segmen 1 mulai ukuran benih bening lobster (BBL) atau Peurulus hingga 10 gram; segmen 2 dengan ukuran 10 gram – 50 gram; dan segmen 3 dengan ukuran 50 gram atau 100 gram – 200 gram dengan waktu pemeliharaan sekitar 4 bulan.

Berdasarkan hasil percontohan selama lebih kurang 3 bulan, inovasi pakan menghasilkan variasi survival rate (SR) pada segmen 1, 2 dan 3 berturut turut sejumlah 35%, 78,75% dan 98,25%. Berat akhir masing-masing 12,4 gram, 36 gram, dan 225 gram.

SR pada segmen I yang masih di bawah 50% diakibatkan oleh kondisi alam yang bergelombang saat penebaran dan pemeliharaan awal sehingga berpengaruh terhadap pemangsaan pakan yang diberikan, mengingat wadah budidaya yang berupa Keramba Jaring Apung (KJA) sangat terpengaruh oleh kondisi permukaan air.

Sjarief Widjaja, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), mengatakan hal penting dalam budidaya adalah pakan. Untuk itu, formulasi pakan yang tepat dibutuhkan di setiap tahap budidaya lobster. Segmentasi ini juga diharapkan bisa menjadi segmen usaha guna meningkatkan kesejahteraan kelompok.

“Lobster dengan masing-masing tahap perkembangan membutuhkan formulasi pakan yang berbeda-beda karena sangat bergantung pada kemampuan mereka menyerap pakan tadi. Kalau kecil, tentu saja butiran-butiran pakannya akan menjadi semakin halus. Tapi semakin besar, dia membutuhkan pakan yang sesuai, misalnya membutuhkan banyak kalsium pada saat tumbuh besar dan menumbuhkan cangkang,” jelas Sjarief dalam keterangan pers, Sabtu (14/11/2020).

Sjarief memberikan apresiasi kepada BBRBLPP Gondol, khususnya para peneliti yang telah menemukan inovasi ini. Dengan inovasi pakan pembesaran lobster ini, ia pun mendorong kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) untuk dapat ikut melakukan pembesaran lobster dari segmen ke segmen maupun menjadi kelompok penyedia pakan.

Sjarief melanjutkan, untuk pengembangan pakan lobster dibutuhkan kekerangan sebagai bahan baku. Menurutnya, lobster yang mendekati usia dewasa juga akan memakan kekerangan yang ada di sekitarnya, bahkan hingga cangkang kerangnya. Maka ia menilai, budidaya kekerangan juga perlu digalakkan.

Ia mendorong, para peneliti untuk mengamati dan meneliti lebih lanjut perilaku lobster ini, seperti bagaimana tumbuh, bagaimana besar, dan bagaimana lobster menghadapi atau bersembunyi dari predator.

“Kita dapat membentuk suatu ekosistem tiruan pada saat kita melakukan pembesaran. Misalnya dengan menyiapkan paralon-paralon untuk tempat lobster bersembunyi. Kemudian kita siapkan beberapa pola-pola bebatuan atau paving block yang berongga. Itu adalah pola-pola tiruan dari ekosistem alam yang biasanya mereka di sana,” bebernya.

Di samping penerapan teknologi dan pembentukan kelompok, Sjarief juga menginginkan adanya riset sosial ekonomi untuk menghitung potensi ekonomi dan harga pasar lobster. Tujuannya agar masyarakat bisa mendapatkan kehidupan dan keuntungan yang layak dari kegiatan budidaya ini.

“Pelatihan pembesaran maupun uji coba pembesaran lobster sampai ukuran 250 gram ini merupakan upaya yang baik. Tapi lebih penting lagi adalah bagaimana membangun komunitas budidaya lobster ini, yang mana semuanya bisa hidup secara berdampingan, damai, sejahtera, dan bisa mengembangkan dirinya,” tandas Sjarief.

Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Lilly Aprilya Pregiwati menyebut percontohan inovasi teknologi pakan pembesaran lobster pasir ini dilaksanakan sejak Juli. Kegiatan diawali dengan sosialisasi dan serah terima bahan percontohan.

Saat ini, dilakukan temu lapang untuk melihat perkembangan lobster yang dibudidayakan. Menurutnya, pertemuan antara pelaku utama dan pelaku usaha dengan penyuluh perikanan dan peneliti atau ahli perikanan dalam kegiatan ini merupakan upaya peningkatan produksi perikanan.

Terkait inovasi pakan pembesaran lobster, ketersediaan pakan secara kontinyu baik dari segi kualitas dan kuantitas mutlak diperlukan. Hal ini untuk memastikan industrialisasi atau pengembangan bisnis ke depan dapat terlaksana dengan baik.

Lombok Timur dipilih sebagai lokasi percontohan karena perairannya merupakan salah satu lokasi sumber benih lobster. Potensi ini diharapkan dapat menghantar masyarakatnya ke kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan hasil analisis usaha, inovasi ini tercatat memiliki prospek menguntungkan bagi pembudidaya.

I Nyoman Adiasmara Giri, Peneliti BBRBLPP Gondol--yang mengembangkan inovasi ini, menyatakan bahwa perairan Lombok, Jawa, dan Sumbawa memiliki potensi dan produksi benih lobster alam yang besar.

Pada 2016, produksinya tercatat lebih dari 100 juta, di mana 90% di antaranya merupakan lobster jenis pasir. Namun, selama ini praktik budidaya hanya menggunakan pakan segar (trash fish). Oleh karena itu, perlu dikembangkan pakan buatan yang efektif untuk mendukung kegiatan budidaya ini.

Menurut Giri, pakan buatan ini dapat mendukung pertumbuhan lobster dengan baik. Sementara, kombinasi pakan buatan dengan pakan segar (ikan, kepiting, dan kekerangan) dapat meningkatkan laju pertumbuhan lobster. “Selain itu, kita juga ketahui bahwa laju pertumbuhan lobster jantan jauh lebih cepat daripada lobster betina.”

Kepala BBRBLPP Gondol Bambang Susanto mengungkapkan harapan agar inovasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut, terlebih lokasi percontohan merupakan sumber benih bening lobster. Dengan demikian, diharapkan kedepan harga benih dapat ditekan seminimal mungkin.

“Kegiatan seperti ini diharapkan dapat berkelanjutan untuk mendukung pengembangan usaha masyarakat dan memberikan manfaat sebesar besarnya untuk kesejahteraan,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pakan ikan Lobster
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top