Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dorong Sektor Prioritas, Kemenperin Tingkatkan Investasi di Industri Mamin

Saat ini, investasi di industri makanan dan minuman telah mencapai Rp40,5 triliun atau 20 persen dari total investasi ke industri pengolahan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 13 November 2020  |  18:27 WIB
Salah satu fasilitas produksi industri makanan. - Istimewa/Kemenperin
Salah satu fasilitas produksi industri makanan. - Istimewa/Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perindustrian akan meningkatkan investasi di industri makanan dan minuman hingga akhir 2020, sesuai yang tercantum dalam rencana kementerian 2020-2023.
 
Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Supriyadi mengatakan investasi di industri makanan dan minuman (mamin) telah mencapai Rp40,5 triliun. Angka tersebut merupakan 20 persen dari total investasi ke industri pengolahan, yang senilai Rp201,8 triliun. 
 
"Pemerintah juga telah menetapkan beberapa sektor industri prioritas yang akan dikembangkan dan tertuang dalam Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN), di mana industri pangan termasuk dalam salah satu industri andalan yang diprioritaskan pengembangannya," paparnya kepada Bisnis, Jumat (13/11/2020). 
 
Supriadi menuturkan salah satu fokus pengembangan yang akan dilakukan pada 2021, adalah ketersediaan bahan baku. Menurutnya, ketersediaan bahan baku di industri mamin belum mencukupi dari sisi jumlah, kualitas, maupun kontuinitas. 
 
Ketersediaan bahan baku menjadi penting mengingat bahan baku menjadi salah satu pertimbangan para investor. Selain itu, ketersediaan pasar dan fasilitas fiskal juga menjadi pendorong penanaman modal oleh para investor. 
 
Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim menyebutkan investasi sektor agro tersebut dibagi dalam tiga industri. Pertama, industri makanan, hasil laut, dan perikanan yang akan meliputi gula, tepung, pakan, penggilingan jagung, serta biskuit.
 
"Untuk industri makanan ini total akan ada 9 proyek dengan investasi senilai Rp19,94 triliun," ujarnya kepada Bisnis
 
Kedua, industri minuman, hasil tembakau, dan bahan penyegar yang meliputi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), susu dan olahan susu, minuman ringan, serta produk cokelat. Total akan ada 7 proyek dengan investasi senilai Rp2,66 triliun.
 
Ketiga, industri hasil hutan dan perkebunan yang meliputi refinery dan fraksinasi sawit, biodiesel, minyak sawit, pulp, dan kertas. Total, ada ada 10 proyek dengan investasi senilai lebih dari Rp10 triliun.
 
Berbagai investasi tersebut diharapkan dapat mengungkit kinerja industri agro. Apalagi, industri-industri ini terkait dengan kebutuhan utama masyarakat yang juga cukup tertekan dalam selama pandemi.
 
Sebelumnya, Kemenperin memproyeksi industri mamin mampu tumbuh hingga 9 persen pada akhir 2020 atau lebih tinggi dari realisasi 2019, yang sebesar 7,9 persen. Namun, angka tersebut terpaksa diturunkan karena pandemi Covid-19.
 
"Sampai akhir tahun mungkin sekitar 3 persen. Karena beberapa kali kunjungan ke pabrikan, industri mamin sudah rebound pada Juni 2020. Melihat itu, mudah-mudahan tumbuh 3 persen, mungkin tidak 4 persen," kata Rochim.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi kemenperin industri mamin
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top