Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Perunggasan Belum Kompetitif, Begini Penjelasan Indef

Impor untuk pakan unggas ini juga kian meningkat dari tahun ke tahun sehingga perlu dibicarakan strategi untuk meningkatkan kandungan lokal demi memangkas biaya.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 11 November 2020  |  17:40 WIB
Warga antre untuk mendapatkan ayam yang dibagikan secara gratis oleh Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar Indonesia) Jawa Tengah di Kota Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/6/2019). - ANTARA/Maulana Surya
Warga antre untuk mendapatkan ayam yang dibagikan secara gratis oleh Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar Indonesia) Jawa Tengah di Kota Solo, Jawa Tengah, Rabu (26/6/2019). - ANTARA/Maulana Surya

Bisnis.com, JAKARTA — Industri perunggasan dinilai belum kompetitif hingga saat ini mengingat 66 persen alokasi produksi masih habis untuk biaya pakan.

Direktur Eksekutif Institute Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan bahwa struktur biaya produksi unggas khususnya untuk pakan yang tinggi dan ketergantungan pada tepung sebagai bahan substitusi yang juga harus diimpor. Keterbatasan sumber bahan baku lokal membuat industri belum mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri.

"Ketergantungan pada bahan baku impor seperti bungkil kedelai, vitamin, dan lainnya. Hal itu membuat harga pakan berfluktuasi mengikuti kurs dolar dan harga pasar Internasional. Ini yang membuat ketidakstabilan dan sulit diprediksi," katanya dalam webinar, Rabu (11/11/2020).

Tauhid menuturkan bahwa impor untuk pakan unggas ini juga kian meningkat dari tahun ke tahun sehingga perlu dibicarakan strategi untuk meningkatkan kandungan lokal demi memangkas biaya.

Adapun selain persoalan pakan industri, perunggasan memang masih butuh perbaikan untuk didorong lebih kompetitif. Menurut Tauhid ada enam langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, diperlukan kebijakan akan penyediaan data secara waktu nyata yang berbasis tiap-tiap pelaku industri perunggasan.

Kedua, pengaturan kembali peran tiap-tiap pemangku kepentingan dalam sinergitas keseimbangan pasokan dan permintaan ayam.

Ketiga, peningkatan efektivitas kebijakan dan efisiensi pakan dalam penyediaan pakan yang berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan.

Keempat, formulasi kembali kebutuhan suplai dan permintaan untuk setiap rantai nilai produk-produk perunggasan berbasis data yang clear dan clean, terutama importasi GPS.

Kelima, mendorong modernisasi industri perunggasan nasional dengan menatanya ke arah modern rantai pasok.

Keenam, mendorong lahirnya road map atau peta jalan industri perunggasan yang lebih kompetitif.

Menurut Tauhid, hal paling penting yakni adanya data keseimbangan pasokan dan permintaan terutama pada bibit ayam atau day old chicken (DOC). Hal itu guna menciptakan kebijakan yang tepat dan cepat.

Untuk itu, Tauhid juga menyarankan agar Kementerian Pertanian memiliki waktu nyata atau data termutakhir terkait industri perunggasan agar tidak kembali terjadi kelebihan produksi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indef unggas
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top