Masyarakat Masih Ogah Belanja, Konsumsi Rumah Tangga Penyebab Terbesar Resesi

Konsumsi rumah tangga ini masih menjadi pendorong terbesar kontraksi ekonomi pada kuartal ketiga karena komponen ini memiliki porsi 57 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Warga memanfaatkan momen Ibu Kota sepi dengan berfoto dan berolahraga di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu (5/6/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan
Warga memanfaatkan momen Ibu Kota sepi dengan berfoto dan berolahraga di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu (5/6/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan konsumsi rumah tangga pada kuartal III/2020 masih terkontraksi dalam, sebesar -4,04 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Konsumsi rumah tangga ini masih menjadi pendorong terbesar kontraksi ekonomi pada kuartal ketiga karena komponen ini memiliki porsi 57 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

"Berdasarkan sumber pertumbuhan, konsumsi rumah tangga merupakan sumber kontraksi terdalam karena bobot konsumsi rumah tangga sekitar 57 persen, sementara masih kontraksi -4 persen yoy, sehingga sumber pertumbuhan konsumsi rumah tangga menyumbang 2,17 persen," katanya Kepala BPS Suhariyanto, Kamis (5/11/2020).

Suhariyanto menjelaskan, rendahnya konsumsi masyarakat tercermin dari penjualan eceran yang masih mengalami kontraksi, diantaranya pada penjualan sandang, bahan bakar kendaraan, suku cadang dan aksesoris, peralatan informasi dan telekomunikasi, perlengkapan rumah tangga lainnya, barang budaya dan rekreasi, serta barang lainnya.

Selain itu, penjualan mobil penumpang dan sepeda motor pada kuartal III/2020 masih mengalami kontraksi. Hal yang sama juga terjadi pada transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit masih terkontraksi.

Di sisi lain, ekonomi Indonesia pada kuartal III/2020 justru didorong oleh konsumsi pemerintah, yang tumbuh sebesar 9,76 persen yoy dan tumbuh 16,93 persen secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq).

Pertumbuhan belanja pemerintah ini didorong oleh peningkatan realisasi belanja bantuan sosial terkait dengan program pemulihan ekonomi nasional (PEN), serta peningkatan belanja barang dan jasa.

"Belanja pemerintah pusat kenaikannya sangat tinggi, tercermin dari belanja barang dan belanja hibah dan belanja bansos. Tentunya realisasi APBN ini akan berpengaruh positif ke konsumsi pemerintah dan membantu konsumsi rumah tangga," kata Suhariyanto.

Secara keseluruhan, ekonomi pada kuartal III/2020 mengalami pertumbuhan positif 5,05 persen secara qtq, namun secara tahunan mengalami kontraksi -3,49 persen yoy, yang artinya Indonesia resmi memasuki zona resesi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper