Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran

Pandemi Covid-19 tidak menghalangi industri biodiesel untuk meningkatkan performa produksi pada tahun ini. Walaupun diramalkan tidak akan mencapai target awal 2020, pabrikan optimistis volume produksi akan lebih tinggi dari tahun lalu.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 30 Oktober 2020  |  17:00 WIB
Contoh bahan bakar biodiesel. Produksi biodiesel pada 2021 diramalkan menembus level 10 juta kiloliter.  - Bisnis/Abdullah Azzam
Contoh bahan bakar biodiesel. Produksi biodiesel pada 2021 diramalkan menembus level 10 juta kiloliter. - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 tidak menghalangi industri biodiesel untuk meningkatkan performa produksi pada tahun ini. Walaupun diramalkan tidak akan mencapai target awal 2020, pabrikan optimistis volume produksi akan lebih tinggi dari tahun lalu.

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mendata volume produksi hingga akhir kuartal III/2020 mencapai 6,4 juta kiloliter. Adapun, realisasi volume produksi per September 2020 merupakan yang terbesar selama pandemi berlangsung atau mencapai 740.295 kiloliter.

"Kecil pengurangan [volume produksi akibat pandemi], kami juga heran. Kami kira dengan adanya pandemi itu turun drastis. Paling terjadi penurunan [target produksi] 10 persen," kata Ketua Umum Aprobi M. P. Tumanggor kepada Bisnis, Jumat (30/10/2020).

Aprobi menargetkan volume produksi biodiesel sepanjang 2020 dapat mencapai 9,5 juta kiloliter atau tumbuh sekitar 14 persen secara tahunan. Seperti diketahui, realisasi produksi pada 2019 mencapai 8,3 juta kiloliter.

Dengan kata lain, Tumanggor meramalkan produksi biodiesel hingga akhir 2020 hanya akan tumbuh 1,9 persen secara tahunan menjadi sekitar 8,5 juta kiloliter.

Adapun produksi biodiesel pada 2021 diramalkan menembus level 10 juta kiloliter. Artinya, Aprobi menilai performa industri biodiesel tahun depan setidaknya dapat tumbuh 16 persen secara tahunan.

Tumanggor menilai hal tersebut disebabkan oleh implementasi campuran fatty acid methyl ether (FAME) sebesar 30 persen pada bahan bakar solar atau B30. Selain itu, pemerintah juga akan menguji coba penggunaan B40.

"[Target produksi 2021] masih proses perhitungan karena setelah putus [formula B40] ada kebijakan kebijakan dan peraturan baru yang harus ditetapkan," ucapnya.

Tumanggor menyampaikan saat ini pemangku kepentingan sedang menguji formula pencampuran 30 persen FAME dan 10 persen green diesel untuk mencapai campuran bahan nabati 40 persen. Menurutnya, pemerintah akan mencapai konsensus terkait formula B40 pada medio Desember 2020.

"Jadi, serapan sawit [oleh] kebutuhan dalam negeri akan meningkat tahun depan," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

biofuel Biodiesel
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top