Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengusaha Minuman Ringan: Ini Kondisi Terburuk Sejak 2007!

Pandemi Covid-19 membuat pelaku industri minuman ringan harus mengalami kondisi 'babak belur'.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 29 Oktober 2020  |  17:40 WIB
Konsumen di satu gerai supermarket di Purwokerto, Minggu (28/7).  - BISNIS.COM
Konsumen di satu gerai supermarket di Purwokerto, Minggu (28/7). - BISNIS.COM

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku industri minuman ringan meramalkan volume produksi hingga akhir 2020 akan anjlok. Adapun, industri jus dan perisa buah merupakan industri yang paling terpukul. 

Asosiasi Minuman Ringan (Asrim) mendata, pada awal pandemi Covid-19 di Indonesia yang terjadi pada April-Mei 2020, volume produksi minuman ringan terkontraksi lebih dari 40 persen secara tahunan. Adapun, produksi selama Januari-Agustus telah anjlok 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

"Karena memang kondisinya bukan cuma orang memilih [konsumsi], tapi orang benar-benar menghilangkan pertemuan," ujar Ketua Asrim Triyono Pridjosoesilo kepada Bisnis, Kamis (27/10/2020). 

Triyono mendata penurunan volume produksi terbesar secara presentasi dialami oleh produk flavoured water sebesar 24 persen, sedangkan produk jus dan minuman berperisa buah mencapai 23 persen. Sementara itu penurunan terendah dialami oleh produk susu berperisa atau sebesar 11 persen. 

Dengan kata lain, minuman teh yang selama ini menjadi jawara industri minuman ringan mengalami penurunan volume produksi lebih dari 11 persen.

"Jadi, memang di industri minuman ringan kita lagi berat banget."

Walakin, Triyono menilai permintaan pada kuartal IV/2020 akan membuat penurunan produksi pada akhir tahun mencapai 12-15 persen secara tahunan. Menurutnya, pandemi Covid-19  membuat performa produksi sepanjang 2020 menjadi yang terburuk sejak 2007. 

Di sisi lain, Triyono menilai penurunan volume produksi sekitar 12-15 persen hanya dapat terjadi jika pembatasan sosial berskala besar (PSBB) penuh tidak diterapkan kembali. 

Pada Februari,  Triyono menargetkan tahun ini industri minuman ringan hanya dapat tumbuh sekitar 3--4 persen. Namun demikian, lanjutnya, pengenaan cukai gula dapat membuat pertumbuhan produksi industri minuman ringan kembali negatif seperti pada 2017. 

Seperti diketahui, Asrim mendata volume produksi tiga jenis minuman ringan yakni  teh kemasan, minuman karbonasi, dan minuman ringan lainnya. Pada 2016, volume produksi teh kemasan mencapai 2,1 juta ton, minuman karbonasi sekitar 747.000 ton, sementara minuman ringan lainnya sekitar 808.000 ton. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minuman industri minuman ringan Covid-19
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top