Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rosan Roeslani Curhat ke Bamsoet, Dimarahi Gara-Gara Cetak Uang Rp1.600 Triliun

Permintaan cetak uang Rosan itu menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Meski demikian, dia menuturkan akhirnya berujung melakukan otoritas keuangan "cetak uang".
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 16 Oktober 2020  |  18:23 WIB
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Ketua DPR Bambang Soesatyo (kiri), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kanan) dan Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani (kedua kanan) menghadiri penutupan Rapimnas Kadin di Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (28/11/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Ketua DPR Bambang Soesatyo (kiri), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kanan) dan Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani (kedua kanan) menghadiri penutupan Rapimnas Kadin di Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (28/11/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani pernah meminta pemerintah untuk mencetak uang sebanyak Rp 1.600 triliun saat penyebaran pandemi Covid-19 menyebar sampai ke Indonesia.

Permintaan cetak uang Rosan itu menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Meski demikian, dia menuturkan akhirnya berujung melakukan otoritas keuangan "cetak uang".

Bos Recapital Grup itu mengatakan kondisi perdagangan RI sangat pahit. Meski neraca datang surplus, ekspor dan impor Indonesia turun drastis. Dia sempat mengusulkan cetak duit atau quantitative easing.

"Itu [quantitative easing] kan cetak uang, itu yang kita maksud. Usul kita cetak uang dijalankan, usul supaya suku bunga agar 0 atau 1 persen dijalankan juga. Tapi waktu kita pertama kali [mengusulkan cetak uang] dimarah-marahi saya,” ungkap Rosan Perkasa Roeslani melalui unggahan video akun Youtube Bambang Soesatyo, seperti dikutip Bisnis, Jum’at (16/10/2020).

Selain itu, Rosan mengatakan terhitung total kredit perbankan terdampak Covid-19 yang sudah meminta direstrukturisasi mencapai Rp1.360 triliun hingga September 2020 melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berangkat dari data itu, dia menilai jumlah restrukturisasi kredit selama pandemi Covid-19 terus mengalami peningkatan.

“Jumlah itu kurang lebih adalah 25 persen lebih dari total perbankan yang memberikan pinjaman ke pihak ketiga,” ujar Rosan.

Ketua Umum KADIN Indonesia itu menuturkan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) adalah pihak yang terdampak lebih berat akibat pandemi Corona.

Dia memprediksi sebanyak 50 persen bisnis pelaku UMKM hancur sejak awal tahun hingga saat ini.

“Dari total Rp1.100 triliun yang diberikan ke UMKM, [sebanyak] Rp556 triliun sudah kita restrukturisasi, berarti ini sudah 50 persen dan ini in line dengan angka yang dikeluarkan oleh Asian Development Bank,” imbuh Rosan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia kadin quantitative easing
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top