Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Minat Pasar Hunian Harga Rp500 Juta Sampai Rp1 Miliar Masih Tinggi

Indonesia Property Watch menilai pasar hunian dengan kisaran harga Rp500 juta hingga Rp1 miliar tetap tinggi.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  20:24 WIB
Ilustrasi perumahan mewah./Bloomberg - Chris J. Ratcliffe
Ilustrasi perumahan mewah./Bloomberg - Chris J. Ratcliffe

Bisnis.com, JAKARTA – Minat masyarakat untuk membeli hunian rumah seharga Rp500 juta hingga Rp1 miliar masih tinggi pada kuartal III tahun ini.

CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan pada kuartal III tahun ini terjadi penurunan penjualan unit perumahan di Jabobedek-Banten sebesar 31,3 persen menjadi 1.594 unit dari kuartal II yang 2.319 unit.

Adapun angka penjualan unit rumah pada kuartal II naik 88,7 persen dari kuartal I yang 1.229 unit. "Jumlah unit yang terjual di pasar perumahan Jabodebek-Banten turun 31,3 persen, lebih tinggi dari nilai penjualan, ini menggambarkan tipe besar lebih banyak terjual dibandingkan dengan tipe bawahnya," ujarnya. 

Adapun penurunan terbesar terjadi pada unit rumah segmen Rp301 juta hingga Rp500 juta yakni 52,7 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, diikuti segmen rumah kurang dari Rp300 juta yang turun 39 persen, rumah dengan harga lebih dari Rp1 miliar turun 17,3 persen, dan rumah segmen Rp500 juta hingga Rp1 miliar hanya turun 8,3 persen.

"Segmen di bawah Rp500 juta mengalami penurunan paling besar dan terjadi di hampir di semua wilayah," kata Ali.

Dia menuturkan untuk Bekasi, penurunan pembelian rumah terjadi di segmen besar yakni 27,8 persen, lalu segmen kecil 23,4 persen, dan segmen menengah 20,6 persen.

Untuk di wilayah Bogor, penurunan pembelian rumah terjadi pada segmen besar 21,4 persen dan segmen menengah 14,4 persen, sedangkan untuk segmen kecil hanya turun 1,2 persen.

Di Kota Cilegon, pembelian rumah segmen besar tetap sama, untuk tipe menengah naik 5 persen, dan tipe  kecil turun 3,8 persen.  Untuk Depok, segmen rumah besar turun 28,6 persen, lalu segmen kecil turun 25,0 persen, dan segmen menengah turun 9,1 persen.

Di Jakarta, tidak ada pembelian unit rumah segmen kecil. Namun, untuk segmen besar di Jakarta mengalami kenaikan 100 persen dan untuk segmen menengah tetap.

Di Serang, ibu kota Provinsi Banten, terjadi kenaikan pembelian unit rumah segmen besar sekitar 20 persen dan segmen kecil 3,2 persen, sedangkan penurunan pembelian rumah terjadi di segmen menengah yaitu 1,5 persen.

Di Tangerang, penurunan terbesar terjadi untuk unit rumah segmen kecil 46 persen, segmen menengah 41,1 persen, dan hunian besar 0,7 persen.

"Penurunan tertinggi berdasarkan tipe terjadi di wilayah tipe kecil di Tangerang turun 46 persen, tipe menengah di Tangerang turun 41,1 persen, dan tipe besar di Depok turun 28,6 persen," papar Ali.

Berdasarkan dari komposisi penjualan, 1.594 unit yang terjual pada kuartal III ini segmen kurang dari Rp300 juta mencakup 33,9 persen, diikuti Rp501 juta hingga Rp1 miliar 33,8 persen, di atas Rp1 miliar 16,9 persen, dan segmen Rp301 juta sampai Rp500 juta sebesar 15,3 persen.

"Komposisi penjualan di segmen bawah kurang dari Rp500 juta turun, masyarakat golongan menengah bawah diperkirakan menjadi golongan yang paling terdampak saat pandemi yang membuat tingkat permintaan di segmen ini pun menurun," lanjutnya.

Dia menuturkan selama pandemi ini, terjadi pergeseran pembelian rumah yakni masyarakat yang semula membeli rumah di atas Rp1 miliar bergerak ke yang Rp501 juta hingga Rp1 miliar.

Namun, masyarakat yang berada di segmen Rp300 juta hingga Rp500 juta tidak beralih ke segmen rumah kurang dari Rp300 juta ataupun rumah bersubsidi.

"Pada kuartal III ini memang terjadi peningkatan di segmen harga kurang dari Rp500 juta dengan kenaikan yang bervariasi, meskipun diperkirakan pasar bergeser ke arah yang lebih rendah," tutur Ali.

Dia menambahkan setelah ada kenaikan pembelian properti pada kuartal II, kondisi pasar perumahan di Jabodebek-Banten kembali memperlihatkan penurunan yang hampir merata. Hal itu disebabkan kebijakan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) cukup berdampak pada aktivitas pasar perumahan.

"Segmen menengah bawah relatif semakin tertekan dibandingkan dengan menengah atas. Bahkan segmen menengah atas di beberapa wilayah memiliki kecenderungan meningkat," tuturnya.

Saat ini, lanjutnya, pola pergerakan pasar perumahan belum stabil dan masih dimungkinkan menurun pada kuartal berikutnya. Bila kondisi pandemi berkepanjangan, dia memperkirakan segmen menengah sampai Rp500 juta akan terimbas lebih berat mengikuti segmen bawah yang telah tertekan lebih dahulu.

Pasar segmen menengah atas mulai dari Rp500 juta diperkirakan tetap mempunyai daya beli dan bahkan menjadi penyelamat pasar perumahan saat situasi membeli.

Oleh karena itu, diperlukan stimulus pemerintah untuk menjaga pasar perumahan khususnya terkait perpajakan harus difokuskan pada golongan masyarakat yang membeli rumah dengan harga lebih dari Rp500 juta ke atas.

"Saat ini daya beli masyarakat masih bagus, terbukti dari simpanan masyarakat di perbankan selama pandemi meningkat. Sekarang tinggal bagaimana membuat masyarakat tak hanya menabung, melainkan berinvestasi di properti agar perekonomiam bergerak," tutur Ali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti perumahan
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top