Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hebat! Industri Makanan Ekspansi di Masa Pandemi

Bank Indonesia memproyeksikan industri makanan, minuman, dan tembakau akan melanjutkan perbaikan indeks kinerja manufaktur hingga ke fase ekspansi pada kuartal keempat 2020 di tengah bayangan resesi Indonesia akibat tekanan pandemi dan penantian vaksin Covid-19.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  14:21 WIB
Kunjungan Menteri Perindustrian dalam rangka meninjau penerapan protokol kesehatan di lingkungan pabrik dan pelaksanaan Izin Operasionalitas dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI). Kemenperin
Kunjungan Menteri Perindustrian dalam rangka meninjau penerapan protokol kesehatan di lingkungan pabrik dan pelaksanaan Izin Operasionalitas dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI). Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia memproyeksikan industri makanan, minuman, dan tembakau akan melanjutkan perbaikan indeks kinerja manufaktur hingga ke fase ekspansi pada kuartal keempat 2020 di tengah bayangan resesi Indonesia akibat tekanan pandemi dan penantian vaksin Covid-19.

Seperti dikutip dari laporan berjudul Prompt Manufacturing Index-Bank Indonesia (PMI-BI), Rabu (14/10/2020), indeks manufaktur untuk subsektor makanan, minuman, dan tembakau pada kuartal ketiga meningkat ke level 48,00, seiring dengan perbaikan indeks manufaktur secara keseluruhan.

"Membaiknya kinerja subsektor makanan, minuman dan tembakau diperkirakan sejalan dengan pelonggaran pembatasan di sejumlah daerah dan implementasi adaptasi kebiasaan baru (AKB), serta libur panjang pada akhir tahun," demikian laporan Bank Indonesia.

Selain subsektor subsektor makanan, minuman dan tembakau, hampir seluruh subsektor lainnya juga diproyeksikan menunjukkan perbaikan indeks kinerja pada kuartal keempat 2020, kecuali subsektor besi dan baja, dan subsektor alat angkutan dan peralatannya.

Meski masih dalam fase kontraksi, subsektor yang juga diproyeksikan mengalami perbaikan indeks kinerja itu di antaranya tekstil dan produk tekstil serta alas kaki; barang kayu dan hasil hutan lainnya; kertas dan barang cetakan; serta pupuk, kimia, dan barang dari karet.

Bahkan, subsektor semen dan barang galian nonlogam mengalami perbaikan indeks kinerja hingga ke level 50,00 alias keluar dari zona kontraksi.

Secara keseluruhan, kinerja sektor pengolahan diprakirakan makin membaik walaupun masih dalam fase kontraksi. PMI-BI pada triwulan keempat 2020 diprakirakan sebesar 47,16%, meningkat dari 44,91% pada triwulan ketiga 2020. Hampir seluruh komponen pembentuk PMI-BI mengalami perbaikan, dengan indeks tertinggi pada komponen volume persediaan barang jadi.

"Perbaikan terjadi pada seluruh komponen pembentuk PMI-BI, dengan indeks tertinggi pada volume pesanan barang input sejalan dengan implementasi adaptasi kebiasaan baru (AKB) yang mendorong permintaan dan kemudahan distribusi," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko dalam info terbarunya di Jakarta, Rabu (14/10/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri makanan dan minuman indeks manufaktur
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top