Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengusaha Ungkap Penyebab Industri Farmasi Lokal Sulit Berkembang

Direktur Eksekutif Pengurus Gabungan Perusahaan Farmasi, Dorojatun Sanusi menjelaskan, kondisi industri farmasi di Indonesia yang masih rendah.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 29 September 2020  |  01:25 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) disaksikan Direktur PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, (SIDO) Irwan Hidayat (kedua kanan) dan seniman Sys NS (kiri), membubuhkan tanda tangan di atas kaca depan bajaj yang pernah membawanya sebelum acara syukuran di TIM, Jakarta, Minggu (24/8). Dua bajaj yang dibeli seharga Rp. 280 juta itu dipajang di Hotel Tentrem, Yogyakarta. - Antara/Saptono
Presiden Joko Widodo (kanan) disaksikan Direktur PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, (SIDO) Irwan Hidayat (kedua kanan) dan seniman Sys NS (kiri), membubuhkan tanda tangan di atas kaca depan bajaj yang pernah membawanya sebelum acara syukuran di TIM, Jakarta, Minggu (24/8). Dua bajaj yang dibeli seharga Rp. 280 juta itu dipajang di Hotel Tentrem, Yogyakarta. - Antara/Saptono

Bisnis.com, Jakarta -Tingginya angka impor bahan baku dan ketatnya regulasi obat membuat industri farmasi di Indonesia sulit berkembang.

Direktur Eksekutif Pengurus Gabungan Perusahaan Farmasi, Dorojatun Sanusi menjelaskan, kondisi industri farmasi di Indonesia yang masih rendah.

Menurutnya, ada kurang lebih 200 industri farmasi di Indonesia dengan total penjualan pada tahun 2019 sebesar Rp 80 triliun. Dengan angka sebesar itu, terbilang masih rendah dibandingkan industri farmasi lainnya.

"Angka 80 triliun ini relatif sangat rendah apalagi jika dibandingkan dengan asosiasi lain," ujar Dorojatun melalui konferensi video dalam Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Komisi IX DPR pada Senin, (28/9/2020), dikutip dari Tempo.co.

Darojatun mengatakan, 95 persen kondisi bahan baku obat di Indonesia masih diimpor. Hal itu menjadi upaya GP Farmasi untuk mandiri dalam urusan bahan baku obat di Indonesia.

"Impor lebih banyak daripada ekspor, sehingga penghematan devisa negara belum bisa dilakukan," sebutnya.

Selain itu, GP Farmasi juga menilai ketatnya RUU Pengawasan Obat dan Makanan juga akan membawa dampak kepada kecilnya peluang menarik investor masuk ke Indonesia.

Dorojatun menilai mengenai investor telah dituang dalam Kebijakan Presiden dalam meningkatkan perekonomian. Ia juga menyarankan untuk melonggarkan ruang untuk masuknya investor ke Indonesia.

"Sejalan dengan upaya Pemerintah Republik Indonesia dalam rangka mengundang investor sebanyak mungkin, sesuai kebijakan Bapak Presiden dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional," sebut Dorojatun.

Sebelumnya, Komisi IX DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Holding BUMN farmasi dan beberapa organisasi farmasi di antaranya Pengurus Gabungan Perusahaan Farmasi, Pengurus Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia, Pengurus Pharmaceutical Manufacturer Group, Pengurus Gabungan Obat Tradisional Asing, Pengurus Asosiasi Pedagang Besar Farmasi, dan Pengurus Asosiasi Apotek Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

farmasi industri farmasi

Sumber : Tempo.co

Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top