Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Utilitas Industri Mainan Mulai Menggembirakan

Setelah terpuruk dalam utilisasi di level 35 persen akibat pengetatan aktivitas dalam masa pandemi covid-19, industri mainan kini mengklaim sedikit perbaikan.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 25 September 2020  |  17:52 WIB
Balok mainan Lego. Pada April dan Mei banyak pelaku industri yang sudah menutup pabriknya.  - Bloomberg
Balok mainan Lego. Pada April dan Mei banyak pelaku industri yang sudah menutup pabriknya. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah terpuruk dalam utilisasi di level 35 persen akibat pengetatan aktivitas dalam masa pandemi Covid-19, industri mainan kini mengklaim sedikit perbaikan.

Ketua Umum Asosiasi Mainan Indonesia (AMI) Sutjiadi Lukas mengatakan saat ini utilisasi sudah ada peningkatan sekitar 5 persen. Hal itu karena mainan impor yang masuk mulai berkurang dan diimbangi dengan kenaikan produksi lokal.

"PSBB sekarang tidak terlalu mengganggu perdagangan karena usaha masih diperbolehkan buka," katanya kepada Bisnis, Jumat (25/9/2020).

Sutjiadi berharap perbaikan tersebut akan terjadi hingga akhir tahun. Hal itu agar menjadikan pengusaha lebih bergairah dalam menjalankan bisnisnya.

Sebelumnya AMI, mendata utilitas rata-rata pabrikan pada Februari 2020 masih berada di kisaran 60-70 persen. Selanjutnya pada pertengahan tahun anjlok pada 35 persen disebabkan oleh adanya kebijakan PSBB di sejumlah daerah.

"Pada April dan Mei banyak pelaku industri yang sudah menutup pabriknya. Barang produksi terus, tetapi tidak bisa dijual," ujar Sutiadji.

Selain PSBB kala itu, Sutjiadi berujar rendahnya utilitas industri mainan disebabkan oleh tersendatnya importasi bahan baku. Seperti diketahui, 35 persen bahan baku komponen mainan elektronik masih diimpor, khususnya dari China.

Maka dari itu, Sutjiadi saat ini sedang menjajaki penarikan investasi bahan baku industri mainan dari Negeri Panda. Menurutnya, hal tersebut penting lantaran volume bahan baku yang diserap industri mainan cukup tinggi.

"Baut [khusus mainan] saja satu pabrik butuh 600 kilogram per bulan karena satu mainan minimal butuh 10 baut. Seluruh industri mainan bisa menyerap 5 ton untuk baut saja," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pabrik industri mainan
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top