Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Garuda 'Panen' Gugatan Lessor, Negosiasi Masih Berjalan

Pada 27 Maret 2020, salah satu pemberi sewa guna usaha yaitu Helice Leasing S.A.S melakukan langkah hukum di Belanda.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 24 September 2020  |  23:55 WIB
Ilustrasi - Bisnis/Dedi Gunawan\n
Ilustrasi - Bisnis/Dedi Gunawan\\n

Bisnis.com, JAKARTA – PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) masih membahas renegosiasi kontrak sewa pesawat di tengah gugatan hukum yang timbul dari para lessor.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra memahami pandemi membuat hampir semua sektor babak belur. Begitu juga beban finansial yang mesti ditanggung perusahaan sewa pesawat.

Irfan tak menampik hal itu berdampak kepada maskapai nasional yang mengalami gugatan hukum dari para lessor, tak terkecuali Garuda.

“Kami terus bicara dengan para lessor untuk mencapai kata sepakat. Mayoritas lessor sudah menyetujui tetapi beberapa yang lainnya masih on going. Semoga ketemu kata sepakatnya,”jelas Irfan, Kamis (24/9/2020).

Seperti diketahui pada 27 Maret 2020, salah satu pemberi sewa guna usaha yaitu Helice Leasing S.A.S melakukan langkah hukum di Belanda.

Helice mengajukan permohonan kepada Pengadilan Belanda untuk melakukan sita jaminan atas dana yang ada pada rekening Garuda di Amsterdam. Permohonan itu kemudian dikabulkan oleh Pengadilan Belanda.

Pada 29 Mei 2020 Pengadilan Prancis juga mengabulkan permohonan sita jaminan dari Helice Leasing S.A.S atas rekening Garuda di Prancis. Hal itu terkait dengan pembayaran sewa pesawat yang belum dilakukan Garuda.

Sampai saat ini belum ada gugatan pokok perkara terkait permasalahan tersebut. Pihak Garuda pun sedang melakukan negosiasi secara komersial dengan Helice.

Gugatan wanprestasi juga dialami Garuda dari Aercap pada 14 Mei 2020. Salah satu pemberi sewa guna usaha ini mengajukan gugatan ke Pengadilan London terkait pembayaran sewa pesawat yang belum dilakukan.

Proses ini memasuki persidangan di Pengadilan London. Garuda telah beberapa kali melakukan negosiasi dengan Aercap. Saat ini, Garuda sedang melakukan negosiasi komersial dengan AerCap untuk restrukturisasi kontrak.

Akibat kondisi tersebut, maskapai pelat merah tersebut menerima surat pembatasan terbang dari beberapa lessor. Pokok masalahnya, Garuda belum memenuhi kewajiban atas pembayaran sewa dan perawatan pesawat. Atas surat dari lessor tersebut, Garuda melakukan grounded pesawat.

Untuk dapat kembali mengoperasikan pesawat, Garuda melakukan negosiasi dengan pihak lessor. Persetujuan penangguhan dan pembayaran biaya sewa dan pencadangan perawatan sudah diberikan beberapa lessor.

Selain itu berdasarkan laporan tertulisnya, Garuda telah menyampaikan permohonan penundaan pembayaran bunga dan pokok atas perjanjian sewa pembiayaan 6 pesawat Bombardier CRJ-1000. Perjanjian sewa dengan Export Development Canada itu berlaku  untuk periode Juni sampai Desember 2020 .

Export Development Canada menyetujui permohonan penundaan pembayaran pokok periode Juni sampai September 2020. Perpanjangan periode penundaan bergantung kepada perkembangan kondisi keuangan Garuda ke depan.

Emiten berkode saham GIAA ini juga telah menandatangani perjanjian pembelian dengan Boeing untuk 50 pesawat Boeing 737 Max 8 hingga 30 Juni 2020.

Masih ada 49 unit pesawat yang belum dikirim Boeing. Rencana pengiriman belum dapat dipastikan menyusul insiden Boeing 737 Max 8.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pesawat Garuda Indonesia lessor utang garuda
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top