Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jakarta PSBB, Jangan 'Panic Buying'! Peritel Jaga Harga dan Stok Kebutuhan

Tidak ada peningkatan kunjungan yang signifikan sejak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan rencana PSBB total.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 12 September 2020  |  11:06 WIB
Ilustrasi - Salah satu supermarket di London, Inggris, yang mengalami kekosongan stok barang akibat panic buying -  Bloomberg / Bryn Colton
Ilustrasi - Salah satu supermarket di London, Inggris, yang mengalami kekosongan stok barang akibat panic buying - Bloomberg / Bryn Colton

Bisnis.com, JAKARTA -- Pelaku usaha ritel menyatakan masyarakat tak perlu melakukan aksi belanja borongan (panic buying) jelang pelaksanaan PSBB total di DKI Jakarta pada Senin (14/9/2020).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan bahwa ritel modern dalam kondisi siap menjaga ketersediaan barang. Selain itu, stabilitas harga kebutuhan pun dijamin terjaga.

“Kami siap melayani konsumsi masyarakat dan mengikuti protokol kesehatan, dari menjaga pasokan sampai harga,” kata Roy saat dihubungi, Sabtu (12/9/2020).

Berdasarkan pantauan di lapangan, Roy pun mengemukakan bahwa tidak ada peningkatan kunjungan yang signifikan sejak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan rencana PSBB pada Rabu malam (9/9/2020).

Dia menyebut aksi panic buying tidak kembali terjadi seperti pelaksanaan PSBB tahap I lantaran masyarakat telah lebih sadar bahwa peritel mampu menjaga ketersediaan barang.

“Panic buying dulu terjadi karena masyarakat paranoid. Setelahnya mereka melihat ritel hadir menyediakan layanan dan menjaga pasokan barang,” lanjut Roy.

Selain itu, Aprindo pun mengimbau agar pemerintah daerah tidak memberlakukan PSBB seketat pada April-Juni dan memberi izin operasional mal dan ritel modern seperti masa transisi. Menurut Roy, operasional mal dan ritel penting untuk menjamin konsumsi masyarakat dapat terpenuhi.

Selain itu, dia pun mencatat bahwa usaha ritel dan mal bukanlah sumber kluster penyebaran wabah sebagaimana di perkantoran dan transportasi umum. Kapasitas kunjungan disebutnya hanya mencapai 30 persen selama masa transisi dan protokol kesehatan pun telah dijalankan dengan baik.

“Kami minta PSBB ketat yang dilakukan berbeda dengan PSBB pertama yang menimbulkan keterpurukan ritel modern dan mal. Kami harap tetap beroperas tanpa batasan jam,” ujar Roy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top