Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permintaan Menguat, Apindo : Utamakan Stimulus Industri!

Pelaku usaha menilai stimulus untuk korporasi dan UMKM di tengah permintaan konsumen yang mulai membaik harus diutamakan. Pasalnya, dengan industri yang sehat akan lebih memicu peningkatan konsumsi lagi.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 08 September 2020  |  22:27 WIB
Sejumlah pegawai PT Kahatex berjalan keluar kawasan pabrik di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu (17/6 - 2020). Dengan lapangan kerja diciptakan, masyarakat memperoleh penghasilan cukup untuk meningkatkan daya beli dan meningkatkan kepercayaan diri berbelanja. ANTARA
Sejumlah pegawai PT Kahatex berjalan keluar kawasan pabrik di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu (17/6 - 2020). Dengan lapangan kerja diciptakan, masyarakat memperoleh penghasilan cukup untuk meningkatkan daya beli dan meningkatkan kepercayaan diri berbelanja. ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha menilai stimulus untuk korporasi dan UMKM di tengah permintaan konsumen yang mulai membaik harus diutamakan. Pasalnya, dengan industri yang sehat akan lebih memicu peningkatan konsumsi lagi.

Wakil Ketua Umum Apindo Shinta Widjadja Kamdani mengatakan pasca relaksasi PSBB memang kegiatan ekonomi meningkat tapi secara agregat peningkatannya masih jauh di bawah kondisi sebelum pandemi.

Pertumbuhan transaksi riil yang dialami pelaku usaha pun sangat lambat meski tingkat transaksinya lebih tinggi bila dibanding April-Mei karena upaya normalisasi kegiatan ekonomi yang sudah berjalan tiga bulan terakhir.

"Jadi tidak mengherankan bila indeksnya masih termasuk kategori pesimistis tapi membaik sesuai dengan survei konsumen BI. Singkatnya, hasil surveinya realistis terhadap kondisi riil yang kami temui di lapangan," katanya kepada Bisnis, Selasa (8/9/2020).

Untuk ke depannya, industri berharap permintaan konsumen bisa dipacu dengan kelancaran pemberian stimulus, bukan hanya stimulus konsumsi kepada masyarakat melalui BLT atau sejenisnya tapi juga stimulus-stimulus kepada korporasi dan UMKM.

Hal itu agar kegiatan ekonomi produktif terus terjadi. Yakni dengan lapangan kerja diciptakan, masyarakat memperoleh penghasilan yang cukup untuk meningkatkan daya beli dan meningkatkan confidence mereka untuk melakukan spending yang sifatnya non-primer.

"Kami justru berharap stimulus kepada korporasi dan UMKM serta perbaikan iklim usaha dan investasi ini yang dijadikan motor utama oleh pemerintah dalam waktu dekat untuk memacu dan mempercepat pemulihan ekonomi karena kita tidak bisa bergantung pada stimulus konsumsi dari APBN terus-terusan untuk meningkatkan permintaan konsumen," ujar Shinta.

Shinta menilai konsumen harus punya penghasilan agar mereka bisa melakukan pengeluaran yang konstan dan bertumbuh. Oleh karena itu pernaikan iklim usaha untuk mempercepat penciptaan lapangan kerja perlu jadi prioritas.

Di samping itu, pemerintah juga tidak bisa menghindari kenyataan bahwa secara psikologis confidence masyarakat untuk melakukan konsumsi atau menciptakan permintaan konsumen sebagai driver utama pertumbuhan ekonomi nasional juga sangat dipengaruhi oleh kendali terhadap penyebaran pandemi.

"Jadi itu secara paralel, kami harap dalam waktu dekat Indonesia bisa menurunkan tingkat penyebaran Covid-19 secara konsisten karena penyebaran pandemi yang cenderung tidak terkendali di Indonesia ini menjadi sumber masalah ekonomi kita saat ini," kata Shinta

Alhasil, kalau pandemi tidak segera teratasi, jangan harap investor mau berinvestasi atau meningkatkan konsumsi industri ntk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. "Konsumen kita sendiri pun bisa terus pesimistis dan menahan diri untuk melakukan konsumsi."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri pabrik stimulus ekonomi
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top