Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gapmmi : Kenaikan Permintaan Agustus Didorong Stimulus Pemerintah

Stimulus pendapatan yang dikucurkan pemerintah dinilai jadi penyebab utama peningkatan permintaan pada industri makanan dan minuman (mamin).
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 08 September 2020  |  19:50 WIB
Salah satu fasilitas produksi industri makanan. Istimewa -  Kemenperin
Salah satu fasilitas produksi industri makanan. Istimewa - Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA - Stimulus pendapatan yang dikucurkan pemerintah dinilai jadi penyebab utama peningkatan permintaan pada industri makanan dan minuman (mamin).

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) berharap stimulus yang telah dikucurkan pada Agustus 2020 akan konsisten berjalan hingga akhir 2020. Adapun, stimulus tersebut dinilai menjadi kunci perbaikan industri mamin hingga akhir tahun.

"[Per Agustus 2020, utilisasi rata-rata] antara 60-70 persen untuk industri mamin. Belum bisa [kembali ke posisi] 100 persen seperti normal, tapi perkiraan saya [utilisasi bisa naik ke] 70-80 persen [pada akhir tahun," ujar Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman kepada Bisnis, Selasa (8/9/2020).

Selain itu, Adhi berharap stimulus fiskal yang diberikan kepada pabrikan juga dapat terus berjalan. Adhi mencontohkan bahwa dengan ditangguhkannya pembayaran BPJS Ketenagakerjaan, tenaga kerja mendapat gaji utuh.

Adhi menyatakan pabrikan mamin harus menyiapkan setidaknya dua poin dalam menjawab peningkatan permintaan yang diproyeksi akan terjadi hingga akhir kuartal IV/2020. Kedua poin tersebut adalah ketersediaan bahan baku dan kapasitas produksi.

Sejauh ini, pabrikan harus terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan untuk menyiapkan bahan baku. Sementara ini, Gapmmi masih mengoordinasikan ketersediaan jagung untuk industri makanan dan akan mengevaluasi ketersediaan garam.

Menurutnya, syarat kadar toxin pada jagung untuk keperluan industri olahan pangan sangat tinggi. Sementara itu, kadar toxin pada jagung lokal masih tidak sesuai yang membuat pabrikan masih harus bergantung pada impor.

Dari sisi ketersediaan garam, izin impor yang diterbitkan untuk kuartal III/2020 kembali tidak sesuai harapan. Adapun, volume garam impor yang disetujui berkurang sampai 30 persen dari volume seharusnya.

"[Volume importasi garam yang diizinkan] belum sesuai dengan rekomendasi [awal 2020], tapi sudah diberikan. Jadi, saya pikir ini [proses produksi] bisa jalan dulu supaya tidak terjadi kekurangan [garam di industri]," katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Seperti diketahui, Gapmmi mengusulkan agar volume importasi garam yang diijinkan sekitar 550.000 ton. Namun demikian, rekomendasi akhir yang disetujui adalah 530.000 ton.

Dengan kata lain, volume persetujuan impor garam yang diberikan adalah 132.500 per kuartal atau 265.000 per semester. Namun demikian, persetujuan impor yang diterbitkan pada 10 Maret 2020 hanya 219.000 untuk semester I/2020 atau lebih rendah 17,35 persen dari yang seharusnya.

Adhi menyampaikan pemerintah telah menerbitkan seluruh izin impor garam untuk kebutuhan semester I/2020. Adhi berujar industri olahan pangan tidak mengalami kekurangan garam lantaran permintaan di pasar juga berkurang.

Namun demikian, Adhi meramalkan permintaan di semester II/2020 akan berangsur pulih dengan adanya pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB), stimulus perekonomian ke kelas menengah dan menengah bawah, dan gaji ke-13 aparatur sipil negara (ASN).

Di samping itu, sampai saat ini pabrikan mamin nasional dapat dengan mudah menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan nasional. "Laporan dari anggota, [permintaan produk mamin] sudah mulai meningkat per Agustus dan, perkiraan saya, pada September akan terus membaik," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri makanan dan minuman impor garam
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top