Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Alasan Pertamina Pangkas Rencana Pembangunan Kilang Baru

Rencana peningkatan kapasitas kilang masih diperlukan untuk ketahanan energi nasional sekaligus menekan angka impor BBM untuk memenuhi kurangnya pasokan di dalam negeri.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 31 Agustus 2020  |  18:28 WIB
Kilang Plaju PT Pertamina (Persero) Refinery Unit III Palembang. istimewa
Kilang Plaju PT Pertamina (Persero) Refinery Unit III Palembang. istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) memutuskan untuk merevisi rencana pembangunan kilang baru di tengah disrupsi energi  ke depan.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan bahwa perseroan mempertimbangkan adanya perubahaan permintaan energi fosil pada masa depan dalam rencana pembangunan kilang baru.

Menurutnya, ke depannya akan terjadi transisi dari energi fosil berbasis minyak bumi ke energi yang lebih ramah lingkungan seperti listrik dan gas.

Dia mencontohkan kebijakan pemerintah yang mendorong untuk penggunaan biofuel, gasifikasi pembangkit listrik dari diesel ke gas, dan juga kehadiran mobil listrik memengaruhi asumsi permintaan energi fosil.

"Akan ada perubahan signifikan pada demand BBM. Ini yang mendasari demand kami review. Makanya rencana pembangunan kilang kami kurangi. Sebelumnya empat yang baru itu hanya satu," katanya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Senin (31/8/2020).

Adapun, rencana peningkatan kapasitas kilang masih diperlukan untuk ketahanan energi nasional sekaligus menekan angka impor BBM untuk memenuhi kurangnya pasokan di dalam negeri.

Berdasarkan proyeksi permintaan dan pasokan yang dipaparkan Pertamina, dengan kilang yang dimiliki saat ini, rata-rata produksi BBM hanya berjumlah 42 juta kiloliter (kl), dengan rata-rata permintaan BBM dalam negeri 59 juta kl.

Peningkatan produksi sebesar 11 juta kl baru akan terjadi  pada 2023 dan 2024 berjumlah 11 juta kl dan 17 juta kl, serta pada 2025 sebesar 17 juta kl.

Produksi BBM di Indonesia baru akan melebihi permintaan di dalam negeri setelah adanya peningkatan produksi sebesar 27 juta kl dari tambahan proyek refinery development master plan (RDMP) dan grass roof refinery (GRR) pada 2026.

Dengan demikian, produksi BBM Pertamina sejak 2027 hingga 2023 diproyeksikan stabil pada 86 juta kl per tahun dengan potensi pasokan berlebih yang bisa dialihkan ke pasar ekspor sekitar 22 juta kl per tahun dengan potensi penjualan US$11 juta per tahun.

"Ketika kilang-kilang kita sudah mulai beroperasi, maka kebutuhan crude meningkat. Kebutuhan impor mulai 2026 tidak perlu lagi. Crude ini, meningkatkan produksi dan cadangan hulu migas," jelasnya.

Dalam rencana Pertamina, sebelumnya untuk proyek pengembangan RDMP terdiri atas RDMP Balongan, Dumai, Cilacap, dan Balikpapan. Sementara itu, untuk proyek GRR, Pertamina sedang mengerjakan GRR Tuban, dan menunda proyek GRR Bontang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina kilang minyak
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top