Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Progres Smelter Freeport Masih Jauh di Bawah Target

Adapun hingga Juli 2020, PT Freeport Indonesia telah menggelontorkan dana investasi pembangunan smelter tersebut hingga US$290 juta.  
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 27 Agustus 2020  |  15:55 WIB
Truk diparkir di tambang terbuka tambang tembaga dan emas Grasberg di dekat Timika, Papua, pada 19 September 2015. - ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Truk diparkir di tambang terbuka tambang tembaga dan emas Grasberg di dekat Timika, Papua, pada 19 September 2015. - ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA--Pengerjaan pembangunan smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik, Jawa Timur masih jauh di bawah target yang ditentukan.  

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin memaparkan, hingga Juli 2020 realisasi pembangunan smelter katoda tembaga PTFI baru mencapai 5,86 persen.  

Realisasi itu berada di bawah perencanaan yang seharusnya pembangunan telah mencapai 10,5 persen pada Juli 2020.

Sebaliknya, pembangunan fasilitas precious metal refinery (PMR), yang pembangunannya terpadu dengan smelter katoda tembaga, juga menunjukkan kemajuan yang lambat. Hingga Juli 2020, dari target rencana pengerjaan 14,29 persen, realisasinya baru mencapai 9,79 persen.  

"Persiapan awal sudah dilakukan, yang menarik ground improvement sudah selesai. Artinya, lahan sudah diselesaikan.  Namun, ada beberapa kendala nanti disampaikan PTFI.  Ini hasil observasi hingga saat ini.  Namun, kami akan tetap berpegang pada aturan perundang-undangan yang berlaku dan juga hasil pemantauan di lapangan," ujar Ridwan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, Kamis (27/8/2020).

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur PTFI Jenpino Ngabdi menjelaskan realisasi yang masih di bawah target tersebut karena pengerjaan terkendala situasi pandemi Covid-19.  

Dia menuturkan, kontrak engineering procurement construction (EPC) terkait biaya dan waktu penyelesaian proyek belum bisa difinalisasi karena kontraktor EPC dan vendor internasional  terkendala pembatasan di negara masing-masing akibat situasi pandemi Covid-19.  

Oleh karena itu, pihaknya mengajukan permohonan relaksasi target waktu penyelesaian pembangunan smelter katoda tembaga yang semula ditargetkan selesai pada Desember 2023, mundur selama 12 bulan ke 2024.  

"Dari sisi biaya, vendor belum bisa menawarkan harga final. Dari sisi waktu, penundaan akibat Covid ini sudah berjalan 6 bulan, sehingga bila dipaksakan selesai akhir 2023, kontraktor EPC menyatakan tidak sanggup menyelesaikan," ujarnya.

"Sehingga diperlukan revisi jadwal baru.  Apabila memungkinkan agar kami diberi kelonggaran penyelesaian smelter hingga 2024," tambahnya.

Adapun hingga Juli 2020, PTFI telah menggelontorkan dana investasi pembangunan smelter tersebut hingga US$290 juta.  Biaya modal yang dianggarkan mencapai US$3 miliar.

Smelter PTFI memiliki dua fasilitas, yakni untuk mengolah konsentrat tembaga menjadi katoda tembaga dan fasilitas pemurnian logam berharga atau PMR. Smelter tembaga berteknologi outotec memiliki kapasitas input 2 juta ton konsentrat tembaga per tahun dan dapat menghasilkan katoda tembaga sebanyak 550.000 ton per tahun.

Untuk kapasitas fasilitas PMR bisa mengolah 6.000 lumpur anoda per tahun.  PMR ditargetkan beroperasi komersial pada kuartal IV/2022.

Adapun produk samping yang bisa dihasilkan dari smelter PTFI, yakni asam sulfat, terak, gypsum, dan timbal. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Freeport smelter
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top