Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Load Factor Penumpang Pesawat Bisa Ditambah, Ini Syaratnya

AP I mengusulkan management boarding sebagai salah satu solusi untuk mewujudkan load factor penumpang pesawat lebih dari 70 persen selama pandemi Covid-19.
PT Angkasa Pura I (Persero) menerapkan social distancing di Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar./Dok. Istimewa
PT Angkasa Pura I (Persero) menerapkan social distancing di Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar./Dok. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I menilai penambahan tingkat isian pesawat yang saat ini maksimal 70 persendapat dilakukan dengan melaksanakan manajemen boarding yang lebih ketat.

Direktur Utama AP I Faik Fahmi mengatakan protokol jaga jarak dengan pembatasan tingkat okupansi bukan menjadi satu-satunya solusi yang bisa dilakukan dalam mencegah pandemi covid-19. Mengingat maskapai juga sudah memiliki kelengkapan seperti HEPA filter.

Faik menjelaskan pesawat tidak dirancang untuk membatasi kapasitas penumpang sebab jika jumlah penumpang tidak mengalami penaikan justru akan menjadi beban berat bagi maskapai.

Dia mencontohkan di sejumlah negara juga melakukan penerbangan dengan kapasitas secara penuh tetapi dapat melakukan manajemen boarding yang lebih baik. Hal itu dimulai dari mengatur alur penumpang dengan kursi di belakang masuk terlebih dahulu diikuti penumpang dengan nomor kursi di tengah dan di depan.

Sebaliknya ketika mendarat, penumpang dengan kursi berada di depan bisa keluar lebih dahulu dan penumpang di kursi di bagian belakang tidak boleh berdiri dahulu.

"Opsi menambah jumlah penumpang pesawat dapat dipertimbangkan kembali dengan boarding management yang baik dan juga kalaupun memang masih belum percaya diri, maka bisa diatur dulu penambahan kapasitas bagi penerbangan di bawah satu jam," jelasnya, Rabu (26/8/2020).

Sementara itu Gerry Soejatman, pengamat penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia, mengatakan saat ini memang tidak ada dasar ilmiah untuk mempertahankan tingkat okupansi angkutan udara yang saat ini dibatasi sebesar 70 persen.

Selain itu peningkatan kapasitas secara bertahap juga sejalan dengan rencana pemerintah untuk menggerakkan roda ekonominya. Namun di sisi lain upaya melonggarkan kapasitas secara penuh dapat menimbulkan polemik baru jika masyarakat belum percaya diri dalam melakukan perjalanan.

"Balik lagi tergantung dari masyarakatnya juga, kalau secara ilmiah tidak persoalan. Karena kalau masyarakat tidak siap justru alih-alih ekonomi bergerak malah timbul kembali polemik histeria dan hoaks," tekannya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper