Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Denyut BUMDes Terselamatkan oleh Produksi Wastafel Covid-19

Kegiatan produksi westafel (alat cuci tangan) Covid-19 berteknologi tanpa sentuh tangan ternyata mampu menyelamatkan denyut perekonomian Badan Usaha Milik Desa (BUM-Des) yang mati suri selama pandemi Covid-19.
Salsabila Annisa Azmi
Salsabila Annisa Azmi - Bisnis.com 25 Agustus 2020  |  09:15 WIB
Choliq (kiri) sedang memantau pembuatan wastafel portabel minim sentuhan yang dikerjakan para pegawai BUM/Des Tridadi Makmur.Foto: Istimewa
Choliq (kiri) sedang memantau pembuatan wastafel portabel minim sentuhan yang dikerjakan para pegawai BUM/Des Tridadi Makmur.Foto: Istimewa

Bisnis.com, JOGJA - Kegiatan produksi westafel (alat cuci tangan) Covid-19 berteknologi tanpa sentuh tangan ternyata mampu menyelamatkan denyut perekonomian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mati suri selama pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 melumpuhkan hampir semua sektor. Tetapi kondisi itu bukan alasan bagi Ketua BUMDes Tridadi Makmur, Kecamatan Sleman, Agus Choliq, 47, untuk menyerah saat omzet unit usaha BUMDes terjun bebas.

Di tengah terpaan pandemi, Agus Choliq harus terus mencari cara agar roda usaha BUMDes yang ia kelola tetap berputar. Betapa tidak, sejak Covid-19 menyebar hingga DIY, industri pariwisata langsung ambruk karena penghasilan terjun bebas.

Tak terkecuali Desa Wisata Puri Mataram. Salah satu unit usaha BUMDes Tridadi Makmur itu menelan kerugian ratusan juta rupiah. Akibatnya, lebih dari 80% pekerja terpaksa dirumahkan. Begitu juga dengan beberapa pegawai di unit usaha aglaonema.

Otaknya pun terus berputar. Bagi dia, pandemi bukan alasan untuk berlama-lama pasrah dan membiarkan puluhan pekerja dirumahkan. “Selama bisa mencari peluang dan mengikuti tren yang ada, unit usaha BUM-Des ini akan tetap berjalan,” kata Choliq saat diwawancarai Harianjogja.com, pekan lalu.

Sejatinya, Agus jeli mengamati tren yang berkembang, mulai dari bisnis kain dan bisnis hand sanitizer menjamur di seluruh wilayah. Tetapi menurutnya pasar itu sudah terlalu jenuh.

Akhirnya dia pun memilih fokus pada gerakan cuci tangan yang membuat banyak wastafel buatan tangan tersebar di seluruh sudut kota. Ada satu keresahan dalam hatinya melihat wastafel yang banyak tersedia di ruang publik. Menurutnya wastafel dengan pemutar kran yang harus disentuh masih membuka peluang terkontaminasi virus. “Saya cari referensi, ada sebuah mesin yang dinyalakan pakai kaki. Saya jadi punya ide membuat wastafel yang krannya dinyalakan dengan pijakan kaki, supaya higienis. Karena kalau pakai sensor tanpa sentuhan juga pasti mahal,” kata Choliq.

Alhasil, ide itu dinamakan wastafel minim sentuhan atau wastafel antiCovid-19. Dilihat dari bentuknya, wastafel itu memang tidak jauh berbeda dengan wastafel pada umumnya.

Satu hal yang membedakan adalah model pengoperasiannya. Pengguna cukup menginjak pedal kaki di bawah wastafel, setelah itu sabun dan air akan mengalir dengan lancar.

Dengan dibantu satu orang staf di BUMDes yang memiliki keahlian las besi, Choliq membuat purwarupa wastafel portabel minim sentuhan. Setelah tiga kali gagal, Choliq berhasil membuat satu wastafel portabel. Wastafel ini kemudian diproduksi untuk warga sekitar.

Seketika Viral

Melihat betapa bersemangatnya gerakan cuci tangan di berbagai daerah, Choliq mengunggah video pembuatan wastafel portabel itu di Facebook. Tak disangka, unggahannya itu viral di jagad media sosial. Pesanan dari perkantoran, pemerintahan hingga universitas pun membludak hingga para pegawai kewalahan.

“Situasi itu saya jadikan kesempatan. Sebagian yang menganggur di Puri Mataram dan unit usaha lain saya alihkan tenaganya ke pembuatan wastafel portabel. Total ada 15 pegawai yang saya pekerjakan,” kata Choliq.

Harga wastafel tersebut bervariasi. Mulai dari Rp700.000 hingga Rp1 juta tergantung bahan dan perangkat cuci tangan yang digunakan. Untuk yang paling murah memiliki rangka besi dengan tutup mika. Sementara yang paling mahal memiliki penutup alumunium. Total sudah ada 350 unit wastafel yang dipasarkan ke dalam dan luar DIY.

Menurut Choliq, meski keuntungannya tak sebesar keuntungan unit usaha lain pada hari-hari biasanya, setidaknya pemasukan itu mampu menyelamatkan penghasilan bulanan puluhan pegawai. Hingga kini, pesanan wastafel terus menerus datang dari perorangan. Misalnya untuk pesta pernikahan dengan protokol kesehatan di era adaptasi kebiasan baru.

“Saking banyaknya, saya berencana membuka lowongan pekerjaan untuk pembuatan wastafel ini. Karena makin hari makin kewalahan. Lowongan pekerjaan ini juga prioritas untuk warga desa dulu, terutama yang masih menganggur,” kata Choliq.

Kendati produksi wastafel anti Covid-19 ini menjajikan, Choliq tetap berharap agar permasalahan Covid-19 bisa segera berakhir dan masyarakat bisa kembali ke kehidupan normal. Dia berharap perekonomian segera membaik sehingga puluhan pegawai bisa kembali bekerja dengan penuh dan mendapatkan penghasilan dengan besaran seperti sebelum pandemi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sleman BUMDes covid-19
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top