Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Banjir Sajadah & Karpet Impor, Selisih Harga Bisa Sampai 40 Persen

Setelah produk tirai dan kain impor, kini giliran pasar karpet dan sajadah yang tergerus lantaran persaingan harga yang tak seimbang.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 24 Agustus 2020  |  16:49 WIB
Toko penjual karpet dan sajadah. - alhamdkarpet.com
Toko penjual karpet dan sajadah. - alhamdkarpet.com

Bisnis.com, JAKARTA — Industri tekstil dalam negeri kembali mengeluhkan maraknya produk impor asal China dan Turki yang mengakibatkan serapan produk lokal terganggu.

Setelah produk tirai dan kain impor, kini giliran pasar karpet dan sajadah yang tergerus lantaran persaingan harga yang tak seimbang.

Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman mengemukakan bahwa kenaikan impor karpet dan sajadah mencapai 25,2 persen setiap tahun sejak 2017.

Kondisi ini pun membuat pelaku usaha mengajukan permohonan safeguard kepada Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) guna melindungi industri dalam negeri.

“Sekarang utilisasi produsen karpet dan sajadah tersisa 40 persen, banyak yang telah mengurangi produksi dan pekerjanya karena kondisi ini ditambah dengan tekanan Covid-19,” ujar Rizal saat dihubungi, Senin (24/8/2020).

Dia memaparkan bahwa produk karpet asal China biasanya masuk ke Indonesia dengan harga US$2,5 per kilogram, sedangkan produk asal Turki senilai US$1,3 per kg. Harga ini disebutnya lebih murah 40 persen dibandingkan dengan produk serupa yang diproduksi di dalam negeri.

Dia mengemukakan bahwa kurangnya daya saing produk di dalam negeri dipengaruhi oleh sejumlah hal. Namun, Rizal mengatakan bahwa tingginya bea masuk pada bahan baku utama yang banyak dipasok lewat impor merupakan faktor utama kondisi ini.

Mahalnya harga produk lokal turut dipengaruhi dengan besarnya biaya gas dan listrik industri serta produktivitas pekerja.

Hal ini pun dibenarkan oleh Ketua Komite Karpet dan Sajadah API Jivat Khiani yang menyebutkan bahwa bea masuk untuk poliprolena yang merupakan bahan baku utama karpet dan sajadah mencapai 10 persen.

Sementara itu, untuk benang dikenai bea masuk 5 persen dan produk jadi dibebaskan dari bea masuk.

“Justru bahan baku yang dikenai bea masuk, padahal ketersediaan bahan baku produksi dalam negeri terbatas dan grade-nya tidak sesuai untuk karpet,” kata Jivat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor karpet dan penutup lantai tekstil lainnya tercatat naik dalam 3 tahun terakhir atau selama 2017—2019.

Pada 2017, volume impor tercatat 21.907 ton dan naik menjadi 28.706 ton pada 2018. Impor produk ini kembali naik pada 2019 menjadi 32.357 ton.

Jivat menyebutkan bahwa China menjadi pemasok utama produk ini selama periode tersebut dengan pangsa pasar yang terus membesar.

China merebut pangsa pasar sebesar 50,2 persen pada 2017 dan naik menjadi 56,1 persen pada 2018.

Total pangsa pasar China pada 2019 mencapai 63,4 persen yang kemudian disusul Turki sebesar 19,1 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Karpet tekstil
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top