Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pak Jokowi, Pelaku Pasar Butuh Langkah Konkret Bukan Jargon

Indef menyebut upaya Presiden Jokowi untuk membawa Indonesia mengejar ketertinggalan dari negara lain harus diimbangi dengan langkah konkret, bukan cuma jargon.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 14 Agustus 2020  |  14:09 WIB
Presiden Joko Widodo diampingi Wakil Presiden Maruf Amin meninggalkan Ruang Rapat Paripurna I, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Presiden Joko Widodo diampingi Wakil Presiden Maruf Amin meninggalkan Ruang Rapat Paripurna I, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Langkah Presiden Joko Widodo dalam membawa Indonesia mengejar ketertinggalan dari negara lain saat pandemi dinilai penuh retorika. Jokowi tidak memiliki indikator dan langkah yang jelas untuk merealisasikan hal tersebut.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa pidato Presiden Joko Widodo dipenuhi dengan banyak jargon dan terkesan ambisius.

Bhima menilai bahwa program yang ditawarkan pemerintah masih berkutat pada program lama. Misalnya, mengejar ketertinggalan pangan dari sisi food estate, program tersebut, sebut Bhima, telah ada sejak zaman Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden. Tidak ada yang baru.

Kemudian, program B20, menurut Bhima, saat ini realisasinya sangat rendah. Namun presiden sudah berambisi untuk mengejar B100. Menurutnya, yang diingikan pelaku pasar saat ini adalah langkah konkret untuk membawa Indonesia maju di tengah pandemi.

“Jadi terkesan jauh dari harapan, karena yang diinginkan oleh pelaku pasar dan usaha yang ingin mereka dengar adalah langkah konkretnya. Bukan hanya pada optimisme dan jargon tapi langkah konkret untuk mengejar ketertinggalan indikatornya apa,” kata Bhima kepada Bisnis.com, Jumat (14/8/2020).

Bhima menambahkan dalam mencantumkan indikator mengejar ketertinggalan, pemerintah dapat merujuk pada daya saing atau relokasi industri yang masuk ke Indonesia dari luar negeri selama masa pandemi.

Indikator lain, kata Bhima, dapat berupa perbaikan dalam penanganan korupsi. Kemudian dari segi ekonomi digital yang sedang tumbuh pesat, seharusnuya Indonesia dapat naik peringkat dalam persaingan kompetisi digital global, misalnya Indonesia masuk ke dalam peringkat 50 besar pemain industri digital dunia.

“Sekarang tidak ada step yang bisa diukur, jadi apa indikator untuk mengejar ketertinggalan, apa yang mau dikejar?” kata Bhima.

Sebelumnya, melalui pidato kenegaraan tahun ini, Presiden Jokowi mengibaratkan perekonomian negara -negara di dunia yang tengah tertekan akibat pandemi Covid-19 seperti komputer yang sedang macet. Semua negara harus menjalani proses mati komputer sesaat, harus melakukan restart, harus melakukan rebooting.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi ekonomi
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top