Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Duh! Pendapatan 63,9 Persen UMKM di Jabodetabek Anjlok, Ini Alasannya

Hasil survei mencatat bahwa 63,9 persen UMKM di Jabodetabek mengalami penurunan pendapatan hingga lebih dari 30 persen, tetapi ada masih harapan usai PSBB dilonggarkan.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 11 Agustus 2020  |  21:24 WIB
Kondisi kios-kios yang tutup di Pasar Gembrong Cempaka Putih, Rabu 24 Juni 2020. - Antara/Lvia Kristianti)
Kondisi kios-kios yang tutup di Pasar Gembrong Cempaka Putih, Rabu 24 Juni 2020. - Antara/Lvia Kristianti)

Bisnis.com, JAKARTA - Katadata Insight Center (KIC) merilis survei yang menunjukkan bahwa 63,9 persen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jabodetabek mengalami penurunan omzet lebih dari 30 persen akibat pandemi Covid-19. Meski demikian, sekitar 68 persen responden melihat peluang bisnis pada masa pelonggaran PSBB dengan lebih baik.

“Sebanyak 68 persen merasa optimistis mengenai keberlangsungan bisnis pada masa kenormalan baru. Banyak yang optimistis karena banyak yang bergantung dengan kegiatan tatap muka,” kata Direktur Riset KIC Mulya Amri dalam webinar, Selasa (11/8/2020).

Hasil survei yang dilakukan pada Juni 2020 terhadap 206 UMKM itu juga menunjukkan bahwa 62,6 persen pelaku usaha meyakini bisnisnya masih bisa bertahan selama satu tahun ke depan. Namun, masih ada sekitar 6,3 persen yang menyatakan bisnis mereka hanya akan bertahan selama 3 bulan.

Sementara, lanjutnya, sebanyak 56 persen pelaku UMKM pun menyatakan bahwa bisnis mereka berada pada kondisi yang tidak baik setelah pandemi. Kondisi ini amat kontras dengan kondisi sebelum pandemi ketika 93 persen pelaku usaha menyatakan bisnis mereka dalam kondisi yang baik atau sangat baik dan hanya sekitar 1 persen yang menyatakan usaha yang dijalankan dalam kondisi buruk.

Menurutnya, sebagai imbas dari kondisi Covid-19, sejumlah siasat dan penyesuaian diambil. Sebanyak 65,5 persen UMKM memilih untuk melakukan penyesuaian kegiatan produksi dan sekitar 50,5 persen memilih untuk mengurangi karyawan atau jam kerja.

Sementara itu, Manajer Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Asosiasi E-Commerce Indonesia (IdEA) Rofi Uddarojat mengemukakan bahwa tantangan yang harus dihadapi oleh UMKM di tengah pandemi adalah adanya perubahan perilaku konsumen.

“Bahkan untuk UMKM yang sudah ke ranah digital perlu beradaptasi terhadap pergeseran perilaku konsumen. Dan untuk yang belum beralih ke online, sudah saatnya melakukan penyesuaian karena hal ini tidak bisa dihindari di tengah pembatasan aktivitas fisik saat pandemi,” kata Rofi dalam kesempatan yang sama.

Dia mencatat konsumen Indonesia sebelumnya cenderung memanfaatkan kanal belanja daring untuk membeli kebutuhan tersier. Namun selama pandemi, dia mengatakan transaksi didominasi oleh belanja kebutuhan primer dan sekunder.

Selain itu, Rofi juga mengemukakan bahwa pandemi Covid-19 juga menjadi momen untuk percepatan digitalisasi UMKM. Pihaknya dan pemerintah menargetkan ada penambahan 2 juta unit UMKM yang merambah penjualan secara daring sehingga jumlah UMKM yang terdigitalisasi menjadi 10 juta unit sampai akhir tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan umkm
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top