Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Utilisasi Membaik, Industri Keramik Dibayangi Ancaman Impor

Utilisasi industri keramik nadional telah membaik pada Juli 2020 setelah anjlok ke level 30 persen saat pandemi Covid-19 menyerang. Namun demikian, volume keramik impormasih menjadi masalah hingga kini walau safeguard keramik telah ditetapkan pada 2019.
Kerajinan keramik Malang, Jawa Timur./Bisnis-Reni Lestari
Kerajinan keramik Malang, Jawa Timur./Bisnis-Reni Lestari

Bisnis.com, JAKARTA - Utilisasi industri keramik nadional telah membaik pada Juli 2020 setelah anjlok ke level 30 persen saat pandemi Covid-19 menyerang. Namun demikian, volume keramik impormasih menjadi masalah hingga kini walau safeguard keramik telah ditetapkan pada 2019.

Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) mendata utilisasi industri keramik per Juli 2020 telah berada di posisi 56 persen. Namun demikian, kembalinya utilisasi industri ke level 65 persen diramalkan baru terjadi pada kuartal I/2021.

"Momentum peningkatan penjualan diharapkan bisa berlanjut terus seiring dengan program Pemulihan Ekonomi Nasional, penyerapan Anggaran Pendapatan Belanja Negara, program bantuan dana desa, dan proyekinfrastruktur pemeirntah," ujar Ketua Umum Asaki Edy Suyanto kepada Bisnis, Senin, 10/8/2020).

Edy menyatakan stimulus harga gas di level US$6 per mmBTU merupakan langkah penting dalam menjaga keberlangsungan industri keramik saat pandemi. Sejauh ini, penerapan tarif tersebut masuh belum merata, yakni baru sekitar 80 persen yang tersebar di SUmatra dan Jawa bagian barat.

Dengan kata lain, sebagian besar pabrikan keramik di Jawa bagian timur masih menggunakan tarif gas lama atau di sekitar elvel US$9 per mmBTU. Pasalnya, distributor gas harus terlebih dahulu menyelesaikan dokumen surat perjanjian antara distributor dengan industriwan di hulu industri migas.

"Diharapkan paling lambat pada September 2020 sudah bisa terealisasi penuh [janji penurunan harga gas ke level US$6 per mmBTU]," ujarnya.

Di samping itu, Edy melaporokan bahwa permintaan keramik pada semester I/2020 anjlok lebih dari 25 persen persen. Penurunan permintaan tersebut disebabkan oleh hilangnya masa puncak permintaan tahunan industri keramik pada 2 bulan seelum hari raya Idulfitri.

Walakin, Edy lebih mengkhawatirkan laju penurunan volume keramik impor yang lebih landai pada periode yang sama. Edy mencatat ada dua negara asal impor yang cukup mengkhawatirkan yakni India dan Vietnam.

Edy mengalkulasikan volume kermaik impor seharusnya turun sebesar 15-20 persen selama pandemi Covid-19. Namun demikian, volume impor keramik selama semester I/2020 hanya turun 2 persen.

"Malah [keramik impor dari] India meningkat 57 persen dengan volume 9,47 juta m2 dibanding volume semester I/2019 sebesar 6,05 juta m2," ucapnya.

Seperti diketahui, pemerintah memberikan safeguard terhadap industri keramik melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119/PMK.010/2018 tentang Pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) Terhadap Impor Barang Ubin Keramik membuat penjualan dan produksi perseroan naik.


Pada akhir kuartal III/2018, pemerintah menaikkan bea masuk keramik sekitar 20%--22%. Alhasil, konsumen beralih menggunakan produk lokal karena produk impor dari Cina dan India berkurang.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Andi M. Arief
Editor : Fatkhul Maskur
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper