Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sebanyak 40 Persen Komponen Utama Kendaraan Listrik Masih Diimpor

Hal yang juga menjadi persoalan bagi pengembangan kendaraan listrik adalah belum jelasnya regulasi.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 10 Agustus 2020  |  08:04 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) didampingi Dirut TransJakarta Agung Wicaksono (kedua kanan) dan Direktur Operasional TransJakarta Daud Joseph (kiri) mengisi daya ke bus listrik saat uji coba di halaman Balai Kota, Jakarta, Senin (29/4/2019). Pemprov DKI Jakarta bersama PT TransJakarta dan PT Bakrie & Brother Tbk menyelenggarakan uji coba bus listrik yang bertujuan untuk memastikan penggunaan kendaraan listrik sebagai alat transportasi umum di Jakarta.  - ANTARA
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) didampingi Dirut TransJakarta Agung Wicaksono (kedua kanan) dan Direktur Operasional TransJakarta Daud Joseph (kiri) mengisi daya ke bus listrik saat uji coba di halaman Balai Kota, Jakarta, Senin (29/4/2019). Pemprov DKI Jakarta bersama PT TransJakarta dan PT Bakrie & Brother Tbk menyelenggarakan uji coba bus listrik yang bertujuan untuk memastikan penggunaan kendaraan listrik sebagai alat transportasi umum di Jakarta. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA — Produksi kendaraan listrik masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satu yang paling krusial adalah komponen utama yang belum bisa diproduksi di dalam negeri.

Menurut Presiden Direktur PT Mobil Anak Bangsa (MAB) Leonard, komponen utama berupa baterai, motor penggerak, dan pengontrol untuk bus listrik produksinya masih harus diimpor dari China.

“[Sebanyak] 40 persen komponen ini masih impor, material sasis juga harus impor. Selama 74 tahun kita merdeka ini belum ada besi dari dalam negeri yang bisa dikembangkan untuk membuat sasis. Ini sedang kami upayakan dengan ahli metalurgi dari berbagai universitas untuk mengupayakan bahan baku sasis dari dalam negeri,” katanya kepada, Bisnis belum lama ini.

Selain itu, hal yang juga menjadi persoalan bagi pengembangan kendaraan listrik adalah belum jelasnya regulasi, terutama terkait dengan impor komponen dan infrastruktur pendukung, terutama stasiun pengisian daya di tempat umum. Demikian halnya terkait kelanjutan dari insentif yang dijanjikan sebelumnya.

“Belum ada kejelasan pajak terkait komponen yang diimpor demikian dengan insentif. Hal itu yang akhirnya membuat harga satu unit bus listrik berukuran 12 meter saja menjadi sangat mahal Rp4 miliar—Rp5 miliar. Belum lagi ketentuan bea balik namanya seperti apa,” kata Leonard.

Dukungan dari pemerintah, menurutnya, juga kurang gereget. Leonard menilai pemerintah selama ini hanya mendorong swasta untuk menggunakan kendaraan listrik tanpa terlebih dahulu memberi contoh.

Peraturan Presiden No. 55/2019 tentang Percepatan Progam Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan jauh dari kata cukup.

“Pemerintah seharusnya bisa mencontohkan dengan penggunaan mobil listrik di masing-masing instansi. Misalnya, beberapa bus antarjemput pegawai menggunakan bus listrik. Untuk meyakinkan dan menarik perhatian masyarakat atau swasta juga terhadap kendaraan listik,” ujarnya.

Saat ini, MAB sudah memproduksi bus besar 12 meter yang mampu berjalan hingga 400 km dengan sekali pengisian baterai berkapasitas 35 kWh.  Bus tersebut dirakit di Demak, Jawa Tengah di lahan eks karoseri Nusantara Gemilang seluas 4,5 hektare.

Pembuatan badan bus juga menggunakan fasilitas dan tenaga kerja dari karoseri tersebut. Sebelumnya, MAB bekerja sama dengan karoseri New Armada untuk pembuatan purwarupa pertama bus listrik 12 meter.

“Saat ini produk sudah dibeli oleh Paiton Energy, bukan bus low-deck seperti prototype. Tetapi bus high-deck 12-meter untuk operasional disana. Kedepannya kami juga akan bekerjasama dengan pihak lainnya termasuk PT Angkasa Pura II untuk bus shuttle. Tidak menutup kemungkinan kedepannya dengan Transjakarta,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top