Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Author

Arif Budisusilo

Direktur Pemberitaan Bisnis Indonesia

Bergabung dengan redaksi Bisnis Indonesia pada 1996. Menulis isu ekonomi makro, manajemen dan entrepreneurship. Belakangan juga memberi perhatian pada perkembangan industri media dan ekonomi digital. Twitter @absusilo, IG: arif_budisusilo

Lihat artikel saya lainnya

NGOBROL EKONOMI: Kuasa Ekonomi di Tangan Erick Thohir

Apabila mesin fiskal yang digerakkan Menteri Keuangan Sri Mulyani berputar lebih kencang, disertai percepatan putaran mesin korporasi dari sinergi BUMN yang digerakkan Menteri Erick Thohir, rasanya Indonesia akan selamat dari ancaman resesi.
Menteri BUMN Eric Thohir/ Istimewa
Menteri BUMN Eric Thohir/ Istimewa

Saya tak kaget tatkala mendengar kabar bahwa Presiden Jokowi menugaskan Erick Thohir, Menteri BUMN, untuk memimpin tim percepatan pemulihan ekonomi dari dampak Covid-19.

Resminya sebagai Ketua Pelaksana Tim Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Penugasan yang tepat. Pasalnya, Chief Etho, begitu sejumlah kenalannya menyapa, punya 'aset' kekuatan korporasi yang sesungguhnya. 

Kita tahu, BUMN yang berada di bawah kendali kepemimpinannya, memiliki kekuatan untuk me-leverage sumber-sumber finansial, sekaligus menjangkau wilayah yang besar. Ke seluruh Indonesia. Bahkan global.

Malah, maafkan apabila saya sebutkan penugasan ini agak sedikit terlambat. Sering saya ngobrol dengan sejumlah rekan sejak awal pandemi Covid-19 melanda Indonesia; BUMN sepertinya perlu turun tangan.

Apa pasal? Sudah terbukti, sebenarnya, sejak saat slogan "BUMN Hadir untuk Negeri" (kini "BUMN untuk Indonesia") jejak kaki BUMN jelas kelihatan. 

Banyak kontroversi memang, bahwa pemerintah terlalu memberi panggung ekonomi untuk BUMN. Namun, hasilnya terbukti nyata.

Satu contoh saja, dalam percepatan pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas ekonomi dan logistik. BUMN berada di posisi paling depan.

Warisan karya BUMN, yang ditugasi Pak Jokowi untuk berada di garda depan membangun infrastruktur, telah menorehkan catatan tersendiri. 

Lihat saja untuk sekadar ilustrasi. Hari ini, setelah lima tahun berjalan, Jawa nyaris tersambung sepenuhnya oleh jalan tol. Kini tinggal tersisa sedikit lagi, yakni ruas ujung timur menuju Banyuwangi.

Juga di banyak daerah lain. Tol Trans-Sumatra sudah sampai Palembang. Tol Serang-Panimbang yang akan menjadi akses wisata Tanjung Lesung dan Ujung Kulon, juga sudah mulai tampak bentuknya, kendati terhambat Covid-19. 

Begitu pula Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yang tertunda gara-gara virus Covid, si sontoloyo ini.

LRT atau kereta ringan Jabodetabek, hari ini juga telah menjadi 'ikon' tersendiri di jalan tol Cawang hingga Cibubur dan Bekasi. Meski sedikit tertunda penyelesainnya, tetapi tongkrongan LRT itu sudah sangat nyata. 

Itu semua adalah karya BUMN. Di masa lalu, konsesi jalan tol banyak mengendap di tangan investor swasta. Kini, "konsesi mangkrak" itu tuntas di tangan BUMN. 

Terbayang, andaikan saja Pak Jokowi tidak menugaskan Menteri BUMN untuk mencari cara baru dalam menggenjot infrastruktur lima tahun terakhir, rasanya akan makin menjauhkan untuk mencapai posisi infrastruktur konektivitas ekonomi seperti hari ini.  

Apalagi, muncul peristiwa yang sama sekali tak terduga, yakni pandemi Covid ini.

Dan, Menteri Rini Soemarno, pendahulu Erick Thohir, yang getol membangun sinergi BUMN, memperkuat kolaborasi mesin-mesin korporasi pelat merah untuk membangun negeri, sukses mengemban tugas itu.

Ketersediaan infrastruktur Indonesia -- yang digenjot bersama Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono -- dan tentu bersama sejumlah anggota Kabinet yang lain, menunjukkan kemajuan yang nyata.

Ringkasnya, BUMN yang di masa lalu kerap diledek sebagai "sapi perah penguasa", telah membuktikan mampu berada pada garda terdepan dalam menyeimbangkan kepentingan komersial sekaligus  menjadi agen pembangunan. 

Itu semua berkat upaya sinergi yang kuat, dan penugasan yang jelas. Dan terbukti, BUMN bisa berperan lebih kuat dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Maka, kini saya juga yakin, penugasan kepada Menteri BUMN Erick Thohir untuk memimpin upaya pemulihan ekonomi Indonesia dari dampak Covid-19, adalah langkah yang tepat.

Sinergi BUMN adalah senjatanya. Dengan cara yang baru. Kata Pak Jokowi, extraordinary. Bukan cara konvensional. Bukan pula semata-mata bertumpu pada kekuatan mesin fiskal. 

Tetapi sekaligus mengandalkan kekuatan mesin korporasi, yang menggerakkan ekonomi. Seperti pesawat, bisa terbang dengan mesin ganda. Bukan satu mesinnya mati. Apalagi dua-duanya mati.

***

Erick Thohir, bagaimanapun, punya otoritas yang besar. Selaku menteri BUMN yang menggerakkan aset ekonomi lebih dari Rp8.000 triliun, tentu akan punya banyak tangan dan senjata. 

Pengaruhnya akan begitu besar bagi mesin ekonomi apabila BUMN bergerak secara sinergi. Kekuatan korporasi akan mendorong stimulus ekonomi dari sisi suplai. 

Yang pasti, bukan kali ini saja Erick mendapatkan penugasan khusus. Saat Pemilihan Presiden tahun lalu, Pak Jokowi secara mengejutkan memilih Erick Thohir sebagai Ketua Tim Sukses-nya. 

Pilihan Pak Jokowi itu mengejutkan, karena Erick terbilang sangat muda jika dibandingkan dengan Ketua Tim Sukses Prabowo-Sandi, rival Pak Jokowi, yang berasal dari pensiunan tentara.

Hasilnya, kita semua sudah tahu. Pak Jokowi memenangi kontestasi pemilihan presiden untuk periode kedua.

Sebelum itu, Erick juga ditugasi untuk memimpin Ketua Panitia Asean Games Jakarta-Palembang. Dan sukses. 

Maka, tak salah pula kini pun kita berharap, Chief Etho sukses mengemban misi penyelamatan ekonomi dari dampak Covid-19 ini. 

Kekuatan sinergi BUMN sangat potensial untuk digerakkan mendorong mesin korporasi dan dunia usaha berputar lebih kencang. 

Dengan kekuatan BUMN di genggamannya, sekaligus otoritas yang dikuasakan kepadanya. 

Otoritas tersebut begitu besar. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo, selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (kini berubah menjadi Satgas), berada di dalam gerbong koordinasi Erick. 

Di bawahnya juga dibantu Budi Gunadi Sadikin, mantan Dirut Bank Mandiri, yang kini adalah Wakil Erick di Kementerian BUMN.

Anda tentu tahu, Budi Gunadi Sadikin, yang karib disapa BGS, juga sukses bersama Rini Soemarno dan Menteri Jonan dalam merealisasikan pengambilalihan Freeport dengan cara yang baru: membentuk holding BUMN Pertambangan dengan anchor PT Inalum.

Budi Gunadi juga menjabat sebagai Wakil Presiden Komisaris PT Pertamina. Tentu, profil Budi Gunadi Sadikin cukup mengkilap. Saya kira sangat memadai dalam membantu Erick Thohir di Tim Pemulihan Ekonomi itu.

Secara konseptual, timnya sudah lengkap. Tampak bahwa tujuan yang hendak dicapai adalah membuat keseimbangan, agar penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi bisa berjalan secara beriringan. Tidak saling mengalahkan.

Tim itu, bila berhasil, akan membuat masyarakat merasa tenang dan aman dari ancaman virus Corona -penyebab penyakit Covid-19- dan di saat bersamaan menggerakkan mesin ekonomi agar kembali berputar. Syukur-syukur berputar lebih kencang.

Maka, kini tinggal menunggu gebrakannya. Gerak cepatnya. Cara barunya. Artinya, yang extraordinary, seperti harapan Pak Jokowi.

Dengan begitu, pemulihan ekonomi bukan semata-mata mengandalkan stimulus fiskal saja.

Itu pula bacaan saya, tugas Erick ini akan melengkapi strategi fiskal yang dibebankan kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. 

Apabila mesin fiskal yang digerakkan Menteri Keuangan Sri Mulyani berputar lebih kencang, disertai percepatan putaran mesin korporasi yang digerakkan Menteri BUMN Erick Thohir, rasanya pemulihan ekonomi lebih mudah menjadi kenyataan. 

Apalagi bila dilandasai rasa aman dari ancaman virus Corona, yang Satgasnya masih dipimpin Doni Monardo. Lengkap sekali. 

Bisa jadi, seperti itulah strategi yang diharapkan dari Presiden Jokowi, yang membentuk Tim ini.

Bacaan saya bisa saja keliru. Tetapi sangat mungkin terjadi.

Lebih baik telat, ketimbang tidak sama sekali. Pasalnya, setelah laju pertumbuhan ekonomi melambat hanya 2,97% pada tiga bulan pertama tahun ini, pada kuartal kedua diproyeksikan akan tumbuh minus 4,3%. Bahkan, proyeksi lain dari Menteri Keuangan ada kemungkinan minusnya lebih besar, bisa sampai di atas 5%.

Kalau dibiarkan, bukan tidak mungkin tren itu berlanjut hingga kuartal ketiga. Jika sampai hal itu terjadi, ekonomi Indonesia bisa masuk jurang resesi.

Karena itu, keputusan Presiden memberikan penugasan kepada tim tersebut diharapkan dapat mencegah lebih dini ancaman resesi ekonomi. 

Syukur-syukur, hingga akhir tahun ini ekonomi Indonesia tak sampai terkontraksi, dan pulih lebih cepat tahun depan nanti.

Nah, bagaimana menurut Anda? (*)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arif Budisusilo
Editor : News Editor
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper