Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Peluang Industri Daur Ulang Baterai Lithium Masih Dikaji

Menteri Koordinator Bidang Kemaritian dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia memiliki 80 persen bahan baku untuk lithium baterai.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 29 Juli 2020  |  14:32 WIB
Ilustrasi - Produksi baterai di Pabrik Accumotive di Kamenz. Produksi sistem baterai untuk Mercedes-Benz EQC. Pabrik baterai mengandalkan sistem canggih dan menggunakan berbagai teknologi Industry 4.0 untuk memproduksi baterai drive untuk model produk dan merek teknologi EQ.  - MERCEDES BENZ
Ilustrasi - Produksi baterai di Pabrik Accumotive di Kamenz. Produksi sistem baterai untuk Mercedes-Benz EQC. Pabrik baterai mengandalkan sistem canggih dan menggunakan berbagai teknologi Industry 4.0 untuk memproduksi baterai drive untuk model produk dan merek teknologi EQ. - MERCEDES BENZ

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) masih mengkaji kemungkinan hadirnya industri daur ulang baterai lithium untuk kendraan listrik dengan para ahli lingkungan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Rosa Vivien Ratnawati mengatakan hal teknis mengenai aspek lingkungan industri daur ulang lithium masih dalam pembicaraan dengan para ahli.

"Secara keseluruhan [pengembangan kendaraan listrik], masih dalam proses pembahasan di bawah koordinasi Kemenko Marves," tuturnya lewat pesan singkat kepada Bisnis, Rabu (29/7/2020).

Terpisah, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin, Putu Juli Ardika mengatakan terus menjalin koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan.

Menurutnya, dari berbagai kajian, baterai lithium ion dapat didaur ulang dan hasilnya 100 persen tidak ada yang terbuang, sehingga tidak menghasilkan limbah B3.

Salah satu isu utama yang dibahas adalah kemungkinan daur ulang baterai lithium ion bekas menjadi bahan baku untuk memproduksi baterai baru.

"Hal ini tentu sangat penting untuk menyokong produksi bahan baku baterai yang ada di berbagai wilayah seperti di Morowali, dan untuk itu kami terus berkoordinasi dengan KLHK terkait upaya daur ulang baterai lithium ion yang aman bagi lingkungan,” tuturnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2020).

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritian dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia memiliki 80 persen bahan baku untuk lithium baterai.

"Indonesia 40 persen memiliki cadangan nikelnya besar. Indonesia juga memiliki bauksit dan tembaga yang juga bahan dari baterai lithium, jadi 80 persen bahan baku untuk baterai lithium," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Sabtu (25/7/2020).

Menurutnya, hilirisasi penting untuk masa depan, sehingga tidak hanya ekspor material mentah saja, namun membuat produk hilir yang lebih bernilai. Hal itu memproses dari bijih nikel sampai menjadi baterai dan stainless steel.

Indonesia memiliki cadangan terbesar dan terbaik untuk nikel ore sehingga berpeluang bakal menjadi pemain utama. Pada 2030, Eropa sudah tak lagi menggunakan mobil dengan energi fosil.

Bahkan, di tahun sekitar 2025 - 2027 ditargetkan beberapa puluh persen sudah beralih dapat beralih ke mobil listrik.

"Kita juga bertahap mengurangin energi fosil," ucap Luhut

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kendaraan Listrik Pabrik Baterai
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top