Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menko Luhut: 80 Komponen Kendaraan Listrik Dimiliki Indonesia!

Oleh karena itu, Menko Luhut optimistis produksi kendaraan listrik bisa direalisasikan di Indonesia. Apalagi, saat ini tengah dibangun pabrik lithium di Morowali.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 27 Juli 2020  |  22:08 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menjawab pertanyaan awak media di Jakarta, Rabu (8/1/2020). Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan kedaulatan Indonesia tak bisa diganggu gugat oleh negara manapun meski belakangan ini sedang ramai masuknya kapal asal China ke Perairan Natuna dan melakukan pencurian ikan. Bisnis - Dedi Gunawan
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menjawab pertanyaan awak media di Jakarta, Rabu (8/1/2020). Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan kedaulatan Indonesia tak bisa diganggu gugat oleh negara manapun meski belakangan ini sedang ramai masuknya kapal asal China ke Perairan Natuna dan melakukan pencurian ikan. Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut 80 persen komponen kendaraan listrik dimiliki Indonesia.

Kendaraan listrik kata dia memiliki komponen yang sederhana seperti mesin listrik, baterai, ban, hingga alumunium. Seluruhnya dimiliki Indonesia. Terlebih pemerintah sedang membangun pabrik lithium di Morowali.

“Industri seperti ini kita bikin di sini, seperti mobil listrik 80 persen komponen ada di Indonesia, karena sederhana. Seperti mesinnya saja mesin listrik, baterai kita punya, ban kita punya, alumunium kita punya, sepeda motor juga bisa,” katanya saat diskusi di Metro TV, Senin (27/8/2020) malam.

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia dinilai harus kompak untuk mendukung pengembangan program hilirisasi nikel yang tengah dijalankan pemerintah.

Proyek pembangunan industri lithium baterai ditargetkan selesai pada 2024. Keberadaan pabrik tersebut didasari pada cadangan nikel sebagai bahan baku lithium melimpah di Indonesia.

Adapun hingga kini cadangan nikel Indonesia menyentuh 23,7 persen dari total cadangan nikel dunia. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar kedua di dunia.

Dalam proses pembangunan tersebut, investor diminta untuk membangun Politeknik di sekitar industri. Langkah ini dikeluarkan pemerintah untuk mempermudah transfer pengetahuan kepada masyarakat setempat.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan P Roeslani menyatakan dukungannya kepada proses hilirisasi nikel itu. Pasalnya rencana tersebut akan memberikan asas manfaat bagi semua orang.

“Keterlibatan dari semua komponen masyarakat, dunia usaha, UMKM kan terlibat semua. Ini hal positif dan akan melibatkan banyak orang. Keseimbangan juga harus kita dapatkan,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hilirisasi Nikel Luhut Pandjaitan
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top