Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bertahan di Tengah Corona, Industri Tempe dan Tahu Berpotensi Tumbuh

Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) menyatakan rata-rata utilitas produksi pada kuartal II/2020 anjlok hingga 50 persen. Asosiasi menilai pabrikan saat ini masih melakukan wait and see dalam melakukan strategi pasar selanjutnya.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 14 Juli 2020  |  14:18 WIB
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pekerja menyortir kedelai yang baru tiba di gudang penyimpanan di Kawasan Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (19/2/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Utilitas industri tempe dan tahu nasional tercatat mengalami penurunan selama pandemi virus corona atau Covid-19 sejak April 2020.

Namun demikian, industriwan tempe dan tahu optimistis volume produksinya dapat tumbuh positif pada akhir tahun.

Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) menyatakan rata-rata utilitas produksi pada kuartal II/2020 anjlok hingga 50 persen. Asosiasi menilai pabrikan saat ini masih melakukan wait and see dalam melakukan strategi pasar selanjutnya.

"Karena memang sekarang ini orang yang [biasanya] pergi ke pasar tidak yakin betul [untuk kembali pergi ke pasar saat ini]. Tunggu permintaan [membaik dulu]," ujar Ketua Gakoptindo Aip Syarifudin kepada Bisnis, Selasa (14/7/2020).

Sebelumnya, Bank Indonesia mendata bahwa Prompt Manufacturing Index (PMI) industri makanan, minuman, dan tembakau pada kuartal II/2020 berada di level 35,3. Dengan kata lain, industri makanan, minuman, dan tembakau mengalami kontraksi karena berada di bawah level 50,0.

Dalam catatan BI, PMI industri makanan, minuman, dan tembakau membaik pada kuartal III/2020 ke posisi 48,42. Aip berujar industri tempe dan tahu nasional dapat mengikuti prediksi tersebut dengan syarat penanganan Covid-19 yang lebih baik dari saat ini.

Sebelumnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat penambahan kasus baru pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia sebanyak 1.282 orang, sehingga total pasien terkonfirmasi Covid-19 menjadi 76.981 kasus.

Sementara itu, jumlah pasien yang sembuh bertambah 1.051 orang, sehingga totalnya menjadi 36.689 orang. Di sisi lain, jumlah pasien Covid-19 yang meninggal bertambah 50 orang, menjadi 3.656 orang.

Selain penanganan penyebaran Covid-19 yang lebih baik, Aip juga meminta beberapa insentif dari pemerintah. Pertama, mendorong ekspor produk tempe.

Menurutnya, pemberian izin tersebut akan meningkatkan kesejahteraan produsen tempe domestik. Gakoptindo medata baru sekitar 0,01 persen dari total pengusaha tempe dan tahu yang memproduksi tempe berkualitas ekspor atau sekitar 20 produsen.

Adapun, jumlah produsen tempe dan tahu di dalam negeri berjumlah lebih dari 150.000 unit.

“Ekspor ini masih percobaan, jadi masih trial and error. [Misalnya,] ke Korea [Selatan] kemarin [kirim] satu kontainer. Kalau satu kontainer itu kan kira-kira Cuma 20 ton, kecil sekali,” ucapnya.

Aip telah ada masa percobaan ekspor tersebut diperkirakan akan rampung dalam 3—6 bulan sejak April 2020. Setelah masa percobaan berakhir, lanjutnya, Gakoptindo akan mulai mengekspor 100—200 ton per bulan ke berbagai negara di Asia.

Menurut Aip, para perajin tempe dan tahu domestik dapat meningkatkan tingkat kesejahteraannya mengingat harga jual ekspor jauh lebih tinggi daripada harga jual tempe di pasar tradisional.

Aip menghitung harga jual tempe dan tahu di pasar tradisional dibanderol di kisaran Rp12.000—Rp15.000 per kilo.

Adapun, harga jual di mal dan supermarket berada di kisaran Rp18.000—Rp25.000. Namun demikian, harga ual tempe ekspor naik signifikan menjadi sekitar Rp30.000—Rp40.000 per kilo atau naik lebih dari dua kali lipat dari penjualan di pasar tradisional.

Kedua, memasukkan tempe dan tahu ke dalam anggaran belanja badan usaha milik negara (BUMN). Ketiga, pemesanan tempe dan tahu oleh BUMN melibatkan asosiasi untuk dapat mengkoordinir strategi produksi.

"Kami bisa bikin tempe atau tahu dengan berbagai bentul. [Pengalihan pesanan ke asosiasi] membuat akan adanya inovasi, dan memang itu akan membantu sekali [bagi industri]," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tempe Virus Corona
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top