Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bos BI Beri Peringatan, Kucuran Dana Dari BI Berisiko Kerek Inflasi

Dalam bahan paparan rapat kerja dengan DPR, Senin (6/7/2020), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan ada dua risiko kenaikan inflasi dari setiap penerapan skenario burden sharing yang hingga kini skenarionya masih terus dibahas oleh pemerintah dan bank sentral.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 06 Juli 2020  |  14:42 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (29/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (29/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan peningkatan peran Bank Indonesia dalam pembiayaan APBN berpotensi meningkatkan inflasi hingga tahun 2022.

Dalam bahan paparan rapat kerja dengan DPR, Senin (6/7/2020), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan ada dua risiko kenaikan inflasi dari setiap penerapan skenario burden sharing yang hingga kini skenarionya masih terus dibahas oleh pemerintah dan bank sentral.

Pertama, pembelian SBN oleh BI untuk public goods sebesar Rp397,6 triliun pada tahun 2020, akan meningkatkan inflasi pada tahun 2021 sekitar 4,88% hingga 6,69%.

"Inflasi kemudian menurun pada tahun 2022," papar Perry dalam bahan paparan yang dikutip Bisnis, Senin (6/7/2020).

Sementara itu pembelian SBN oleh BI untuk public goods, UMKM, dan Korporasi sebesar Rp574,6 triliun pada tahun 2020, juga akan meningkatkan inflasi tahun 2021 sekitar 5,26% hingga 8,15%. Kenaikan inflasi masih berlanjut pada tahun 2022 menjadi sekitar 3,26% hingga 4,13%

Kedua, bos BI juga memberikan peringatan tegas, jika pembiayaan APBN oleh BI yang berlanjut pada 2021-2022 dapat menyebabkan Inflasi tidak terkendali. Dia mencontohkan, pembelian SBN oleh BI untuk public goods pada 2020 serta SBN pada 2021 sebesar Rp 226,5 triliun dan Rp 119,5 triliun pada 2022 menyebabkan inflasi pada 2021 sekitar 5,39%-7,92%.

Menurutnya, tekanan inflasi berpotensi sangat tinggi apabila BI membeli SBN oleh BI untuk public goods, UMKM, dan Korporasi sebesar Rp574,6 triliun pada tahun 2020 serta SBN pada 2021 sebesar Rp 226,5 triliun dan Rp 119,5 triliun pada 2022. Dalam skenario terakhir ini, inflasi tahun 2021 sekitar 5,76%-9,38%, serta berkisar 4,37%-7,01% pada 2022. Selain itu, inflasi berpotensi masih tinggi pada 2023.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia Inflasi pemulihan ekonomi
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top