Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Biasa Layani 1.600 Flight/Hari, Lion Air Group Merangkak Lagi

Selama ini, Lion Air Group bisa kehilangan pendapatan rata-rata senilai Rp2,5 triliun per bulan akibat sepinya penerbangan, sedangkan biaya operasional hanya berkurang 40 persen hingga 50 persen.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 02 Juli 2020  |  19:46 WIB
Pesawat Lion Air terparkir di Apron Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (17/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pesawat Lion Air terparkir di Apron Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (17/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Sejak memulai kembali operasional yang dijalankan secara bertahap, Lion Air Group rata-rata mengoperasikan 10 persen hingga 15 persen dari kapasitas normal sebelumnya yakni rerata 1.400  hingga 1.600 penerbangan per hari.

Communications Strategic of Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro mengatakan bahwa hal tersebut berimbas terhadap kondisi pendapatan yang sangat minimal karena terjadi pembatasan perjalanan dan penghentian sementara operasional penerbangan.

“Lion Air Group sedang berada pada masa sulit dan menantang atas kondisi terbentuk dari akibat Covid-19 serta memberikan dampak luar biasa yang mengakibatkan situasi penuh ketidakpastian,” jelasnya, Kamis (2/7/2020).

Alhasil grup maskapai milik Rusi Kirana tersebut mengambil strategi mempertahankan kelangsungan bisnis dan perusahaan tetap terjaga, merampingkan operasi perusahaan, mengurangi pengeluaran dan merestrukturisasi organisasi di tengah kondisi operasional penerbangan yang belum kembali normal sebagai dampak pandemi Covid-19.

Salah satunya, Lion Air Group melakukan pembicaraan bersama mitra-mitra usaha serta melakukan pemotongan pengahasilan seluruh manajemen dan karyawan dengan nilai persentase bervariasi. Makin besar penghasilan, makin besar nilai nominal potongannya.

Kebijakan-kebijakan tersebut telah mulai dilaksanakan dan diterapkan tahun ini pada Maret, April, Mei, Juni 2020 sampai waktu yang belum ditentukan.

Selain itu, Lion Air Group juga mengurangi jumlah tenaga kerja Indonesia dan asing (ekspatriat) berdasarkan masa kontrak kerja berakhir dan tidak diperpanjang.

Sebelumnya, Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait menjelaskan bahwa dengan dibukanya okupansi menjadi 70 persen secara otomatis membuat maskapai lebih mandiri meraup pendapatan.

“Bisa mandiri dari segi revenue dibandingkan cost bisa mencapai break even [impas]. Apalagi, kalau dibuka 100 persen bisa dibuat lagi kreasi harga, gimik, memancing orang terbang,” jelasnya.

Edward menjelaskan bahwa selama ini Lion Air Group bisa kehilangan pendapatan rata-rata senilai Rp2,5 triliun per bulan akibat sepinya penerbangan, sedangkan biaya operasional hanya berkurang 40 persen hingga 50 persen. Semenetara itu, komponen pengeluaran lainnya juga tetap dibayar.

Kondisi dan perawatan pesawat harus tetap dilakukan dengan penggantian suku cadang secara rutin, kemudian pelatihan pilot juga terus dilakukan agar lisensinya tetap aktif. Edward melanjutkan biaya parkir pesawat juga mesti dibayar kendati ada keringanan.

Namun, dia menyebutkan bahwa pandemi yang terjadi di China pada November 2020 telah diprediksi perusahaan bakal menyebar sehingga pihaknya mempersiapkan angkutan logistik ketika tidak ada penghasilan yang diterima dari penumpang hanya untuk menjaga agar tetap hidup.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lion air pandemi corona
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top