Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Manisnya Impor Gula Mentah, dari Konglomerat hingga BUMN Terpikat

Impor gula tidak pernah sepi. Di Jawa Tengah, pasar importasi dikuasai oleh perusahaan yang terafiliasi dengan investor asing hingga pelat merah.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 01 Juli 2020  |  13:43 WIB
Pekerja menyiapkan gula pasir untuk disalurkan ke operasi pasar dan penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Gudang Perum Bulog Sub-Divisi Regional Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Jumat (3/4 - 2020). ANTARA
Pekerja menyiapkan gula pasir untuk disalurkan ke operasi pasar dan penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Gudang Perum Bulog Sub-Divisi Regional Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Jumat (3/4 - 2020). ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Bisnis nan manis terkait dengan impor gula mentah selalu memikat banyak korporasi, dari yang besar hingga kecil. Di antara korporasi tersebut rupanya ada juga usaha patuhan antara swasta dan BUMN.

Bahkan, ada korporasi yang dibiayai dari investasi asing. PT Dharmapala Usaha Sukses, sebuah korporasi yang berlokasi di Cilacap Jawa Tengah ini, merupakan bagian dari konglomerasi Olam Group, yang berpusat di Singapura.

Perusahaan tersebut mendapatkan kuota impor gula mentah sebanyak 200.805 ton yang saat ini telah terealisasi 135.632 ton atau senilai US$42,9 juta. Gula mentah impor milik PT Dhamapala Usaha Sukses didatangkan langsung dari Thailand, Australia, dan India.

Di sisi lain, PT Industri Gula Nusantara merupakan perusahaan yang juga menjadi importir terbesar kedua di Jateng. Beberapa tahun lalu perusahaan ini sempat mengalami kesulitan finansial.

Dalam catatan Bisnis, Artha Graha Network melalui PT Pasifik Agro Sentosa dikabarkan menggelontorkan dana sekitar Rp380 miliar untuk menyelamatkan perusahaan yang memiliki nilai sejarah cukup panjang ini.

Pasifik Agro Sentosa sendiri merupakan perusahaan agribisnis yang memiliki 12 anak perusahaan. Perusahaan ini bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit, perkebunan tebu, pabrik penggilingan gula, dan industri gula rafinasi.

Sebelum Artha Graha masuk, PT IGN merupakan perusahaan kongsi antara swasta dan BUMN. Porsi sahamnya adalah PT Multi Manis Mandiri (MMM) mencapai 64 persen saham sedangkan PT Perkebunan Nusantara IX (PTPN IX) sebagai minoritas sebanyak 36 persen saham.

PT IGN diketahui menjadi salah satu importir gula mentah atau raw sugar dari Thailand dan India. Total importasi sampai Juni 2020 mencapai 77.000 ton dengan nilai impor Rp446 miliar. Sementara total bea masuk yang diperoleh dari aktivitas impor raw sugar ini mencapai Rp80,8 miliar.

Selain dua perusahaan tersebut, impor gula mentah juga dilakukan oleh PT Gendhis Multi Manis (GMM), anak usaha dari Badan Urusan Logistik (Bulog). Total impor yang dilakulan PT GMM mencapai 64.750 ton atau senilai Rp352,4 miliar.

Bulog, seperti diberitakan Bisnis pada 2017 lalu, sempat akan melepas kepemilikannya di PT GMM. Djarot Kusumayakti yang saat itu memimpin Bulog menyebut alasan penjualan anak usahanya ini karena di luar beras, pihaknya ingin lebih fokus dan profesional di bidang usaha logistik.

"Semoga dengan lebih fokus, kita lebih bisa masuk ke periode profesional. [Pasalnya] ternyata antara industri produksi dengan logistik itu kan membutuhkan kompetensi yang tidak sama," sebagaimana diberitakan Bisnis, Selasa (17/1/2017).

Sementara itu, perusahaan yang terakhir adalah PT Madu Baru (PG Madukismo) yang sejauh ini telah mengimpor sebanyak 20.000 ton. Nilai impornya mencapai Rp100,8 miliar.

Data ini diperoleh Bisnis melalui otoritas bea dan cukai. Awal Juni lalu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M. Nur Khabsyin mengeluhkan rendahnya harga jual gula.

Dia menyampaikan harga gula di tingkat petani di Pulau Jawa pada Juni telah menyentuh Rp10.800 per kilogram (kg). Harga tersebut dinilainya jauh menurun dibandingkan bulan Mei yang masih berkisar di level Rp12.500–Rp13.000 per kg.

"Saat ini petani kesulitan menjual gula karena para pedagang dan distributor sudah mempunyai stok dari gula impor," katanya, Selasa (9/6/2020).

Banjir impor gula ini sudah muncul sejak April 2020. Dari data Bisnis, total gula impor yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Emas sebanyak 79.750 ton.  Jumlah ini termasuk 20.000 ton gula mentah (raw sugar) asal Thailand.

Sementara total impor gula yang masuk melalui Pelabuhan Cilacap sebanyak 25.000 ton. Gula ini miliki PT Dharmapala Usaha Sukses, pabrik gula yang berada di Cilacap. Dengan demikian, selama 1 bulan terakhir, jumlah gula impor yang masuk ke Jateng sebanyak 104.750.

"Untuk Tanjung Emas akan masuk kembali dalam waktu dekat [sedang dalam perjalanan] sebanyak 17.000 ton raw sugar milik Industri Gula Nusantara juga dari India," kata Kepala KPP Bea Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Emas Anton Martin, Rabu (22/4/2020).

Anton menjelaskan bahwa gula-gula impor ini langsung di bawa ke gudang masing-masing perusahaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN investasi asing impor gula
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top