Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengamat Penerbangan: Minat Bepergian Masyarakat Masih Rendah

Pelonggaran masa berlaku rapid test dan PCR dinilai tidak berdampak terhadap animo bepergian masyarakat seiring dengan daya beli yang masih rendah.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 29 Juni 2020  |  17:46 WIB
Suasana sepi terlihat di Terminal IA Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (24/4/2020).  Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Suasana sepi terlihat di Terminal IA Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (24/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Upaya pemerintah menggenjot minat bepergian dan pariwisata melalui pelonggaran hasil tes cepat (rapid test) dan polymerase chain reaction (PCR) hingga 14 hari akan terganjal daya beli masyarakat yang lesu.

Pemerhati penerbangan sekaligus anggota Ombudsman Alvin Lie mengatakan tak hanya itu, saat ini, minat para wisatawan untuk bepergian memang minim. Dari sisi demografi, pengguna jasa transportasi udara mayoritas atau sebesar 70 persen diantaranya adalah TNI/ASN/Polri,hingga BUMN dalam rangka kedinasan.

Namun persoalannya anggaran dinas juga dipangkas besar pada tahun ini. Di luar kelompok itu masih terdapat penumpang pebisnis tetapi aktivitas bisnis juga masih melesu. Sisanya sekitar 10 persen memang murni penumpang dengan tujuan wisata. Sejumlah faktor tersebut menjadi penyebab belum munculnya kebutuhan pergerakan masyarakat.

“Bukan hanya perkara persyaratan rapid test atau PCR. Namun daya beli belum ada. Kebutuhan traveling juga belum ada. Kalaupun menggenjot pariwisata naiknya cuma seberapa. Kebanyakan orang juga masih takut untuk bepergian,” katanya, Senin (29/6/2020).

Oleh karena itu, Alvin juga tidak berani memprediksikan kinerja industri penerbangan hingga akhir tahun dengan kondisi saat ini yang dinamis.

“Kalau memperhatikan pertambahan kasus positif Covid-19 di atas seribu bisa saja pembatasan lagi dan itu kita semua akan mundur lagi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) memproyeksikan pemulihan industri penerbangan semestinya bisa berjalan selama tiga bulan setelah pandemi berakhir, tetapi saat ini berakhirnya pandemi belum dapat diketahui secara pasti.

Pengamat penerbangan dari Japri Gerry Soejatman mengatakan saat ini masa pemulihan industri penerbangan memang bergantung atas berlalunya pandemi dan menjadi sulit diprediksikan. Namun, sejumlah ahli memprediksikan pandemi akan berakhir antara dua sampai tiga tahun mendatang.

“Pulih itu tergantung kapan pandemi ini berlalu dan sulit diprediksi. Kalau perkiraan, selama tiga bulan harus ada pemulihan. Perjalanan dan pariwisata serba salah. Buka salah, tutup salah. Jadi memang harus melihat kondisinya,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transportasi maskapai penerbangan
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top