Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Aturan Perjalanan Dilonggarkan, Pengusaha Hotel Semringah

Okupansi hotel diharapkan dapat tumbuh seiring meningkatnya mobilitas masyarakat, meskipun pertumbuhannya tidak terlalu signifikan.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 29 Juni 2020  |  18:39 WIB
Ilustrasi hotel
Ilustrasi hotel

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha perhotelan menilai perpanjangan masa berlaku hasil tes PCR dan rapid test memberi kelonggaran bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan. Okupansi hotel diharapkan dapat tumbuh seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, pertumbuhan okupansi hotel kerap tumbuh paralel dengan jumlah penumpang jalur udara. Hal ini terjadi mengingat sebagian besar perjalanan bisnis dan wisata dilaksanakan lewat jalur ini.

"Hotel ini okupansinya sangat bergantung pada pergerakan orang lewat udara? Karena pesawat menjadi sumber pergerakan utama, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia," kata Maulana saat dihubungi, Senin (29/6/2020).

Selain itu, dia mengemukakan okupansi hotel sejatinya turut memperoleh kontribusi yang besar dari perjalanan bisnis yang berasal belanja anggaran yang berlangsung hampir sepanjang tahun.

"Selama belanja perjalanan ini tidak dilakukan, maka daya dongkrak pada okupansi pun tidak signifikan," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, masa berlaku hasil rapid test dan PCR diperpanjang dari yang mulanya 3 hari dan 7 hari menjadi 14 hari seiring terbitnya Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 No. 09/2020.

Surat Edaran tersebut menggantikan ketentuan perjalanan yang sebelumnya diatur dalam Surat Edaran Nomor 07/2020 tentang Kriteria dan Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19.

Kendati demikian, hal tersebut tak akan serta-merta meningkatkan tingkat kunjungan di destinasi wisata secara signifikan.

Menurutnya, pengaruh pelonggaran ini kepada okupansi tak akan tinggi mengingat masyarakat bakal mempertimbangkan pula biaya perjalanan jarak jauh dengan menggunakan pesawat terbang yang cenderung lebih tinggi. Peningkatan okupansi sendiri disebutnya berpotensi banyak terjadi di destinasi yang dekat dengan daerah asal wisatawan.

"Di destinasi tersebut mungkin ada imbasnya, namun kenaikan juga tidak signifikan, mungkin di kisaran 20 persen pada hari tertentu. Di sisi lain wisata jarak dekat durasinya juga tidak lama," sambungnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hotel pariwisata rapid test
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top