Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Masyarakat Lebih Suka Beli Rumah Siap Huni

Di tengah pandemi virus corona, massyarakat lebih suka membeli rumah siap untuk dihuni sekaligus investasi.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 26 Juni 2020  |  19:33 WIB
Foto aerial kompleks perumahan bersubsidi di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (31/1/2020). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengalokasikan anggaran perumahan bersubsidi untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebesar Rp11 triliun untuk 102.500 unit rumah pada 2020. Antara - Nova Wahyudi
Foto aerial kompleks perumahan bersubsidi di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (31/1/2020). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengalokasikan anggaran perumahan bersubsidi untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebesar Rp11 triliun untuk 102.500 unit rumah pada 2020. Antara - Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA - Kenormalan baru atau new normal ternyata ikut mengubah preferensi masyarakat terhadap produk properti, khususnya hunian berupa rumah tapak atau apartemen.

Alih-alih membeli unit yang masih dalam proses pembangunan atau sama sekali belum dibangun, kini masyarakat memilih untuk membeli hunian yang siap huni.

Menurut CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda masyarakat lebih memilih unit yang siap huni untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Konsumen tidak lagi melihat unit yang mereka beli sebagai sebuah instrumen investasi seperti sebelumnya.

"Pasar lebih memilih yang ready stock untuk menjamin kepastian pembangunan unitnya," katanya kepada Bisnis pada Jumat (26/6/2020).

Kalaupun unit siap huni masih belum tersedia, konsumen akan lebih detail dalam menanyakan proses pembangunan. Tentunya kepastian kapan unit akan selesai dan diserahterimakan menjadi pertimbangan terbesar.

Selain itu, Ali mengungkapkan di masa pandemi Covid-19 banyak pengembang yang menjual unit siap huni dengan harga lebih murah.

"Ready stock malah harga bisa lebih murah. Karena pengembang butuh dana cepat untuk [menjaga] cash flow mereka," ungkapnya.

Lantas, bagaimana dengan pengembang yang tidak memiliki unit siap huni?

Ali menyebut untuk menarik minat masyarakat sebagian besar memberikan diskon cukup besar dan metode pembayaran yang lebih fleksibel.

"Sekarang banyak yang memberikan diskon sampai 15% untuk inden. Biasanya dengan cara bayar yang lebih lama dan fleksibel. Untuk bantu cashflow," tuturnya.

Namun, jumlah pengembang yang memberikan diskon sedemikian besar tak begitu banyak. Diskon yang diberikan rata-rata berkisar 5 persen.

Kemudian terkait dengan pertumbuhan penjualan hunian pada Juni 2020, Ali menyebut masih tertekan walaupun sudah mulai ada kenaikan dibandingkan beberapa bulan yang lalu.

Namun, kenaikan tersebut tidak berlaku untuk rumah kecil dengan harga di bawah Rp300 juta. Termasuk rumah yang pembiayaannya menggunakan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

"Harga Rp300 juta sampai Rp1 miliar dan diatasnya bulan ini sudah keliatan naik. Tetapi yang dibawahnya masih belum karena dipengaruhi terganggunya daya beli dan kekhawatiran akan pemotongan gaji dan pemutusan hubungan kerja (PHK)," paparnya.

Ali menambahkan apabila pandemi Covid-19 bisa segera diatasi kenaikan permintaan akan kembali terjadi pada kuartal-III 2020.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Real Estate Indonesia (DPP REI) Paulus Totok Lusida mengamini jika penjualan hunian dengan harga kurang dari Rp1 miliar sudah kembali menggeliat.

"Untuk rumah tipe kecil hingga menengah ini sudah menggeliat kembali tidak hanya di Jabodetabek dan sekitarnya. Tetapi di Bandung, Surabaya, Malang, dan Makassar juga," katanya ketika dihubungi oleh Bisnis pada Jumat (26/6/2020).

Hal tersebut menurutnya tak terlepas dari adanya pelonggaran lewat implementasi kenormalan baru oleh pemerintah. Apabila hal tersebut tak dilakukan sektor properti akan sulit untuk bangkit.

"Jangan sampai lockdown atau berhenti sama sekali [sektor ini], bangkitnya sulit. Contohnya satu, pabrik keramik yang terkait langsung itu butuh waktu untuk pemanasan tungkunya hingga enam bulan," ujarnya.

Adapun, terkait dengan rumah siap huni yang lebih diminati oleh masyarakat Totok menyebut pihaknya telah melakukan beberapa penyesuaian. Terutama dalam hal pemasaran yang tak lagi sepenuhnya bisa dilakukan lewat tatap muka.

"Untuk pemasaran saat ini juga tidak bisa seperti sebelumnya. Oleh karena itu kami juga bekerjasama dengan platform online terkemuka dan memberikan penawaran menarik juga," ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum Khalawi Abdul Hamid berharap agar pengembang properti bisa segera bangkit untuk mendorong pelaksanaan program sejuta rumah. Selain itu, tentunya meningkatkan perekonomian masyarakat akibat dampak pandemi Covid-19.

Menurutnya, kolaborasi pemerintah dan pengembang dalam pelaksanaan program sejuta rumah dinilai sangat penting mengingat pemerintah tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan rumah untuk masyarakat sehingga peran aktif pengembang dalam pembangunan perumahan sangat dibutuhkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rumah murah Virus Corona
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top