Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lion Air Group Enggan Bahas Strategi Semester II

Lion Air Group mengaku belum dapat membeberkan rencana strategis menghadapi semester II/2020 dan memilih untuk memantau perkembanan situasi pandemi terkini.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  18:49 WIB
Pesawat Lion Air terparkir di Apron Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (17/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pesawat Lion Air terparkir di Apron Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (17/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Lion Air Group mengaku belum dapat membeberkan rencana strategis menghadapi semester II/2020 usai pemerintah merevisi tingkat isian penumpang maksimum dari 50 persen menjadi 70 persen.

Corporate Communication Strategic Lion Air Danang Mandala menyebutkan sesuai perkembangan calon penumpang pesawat sudah semakin memahami serta akan dapat memenuhi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan pesawat yang ditetapkan selama masa waspada pandemi Covid-19.

Menurutnya, Surat Edaran Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 No. 7/2020 tentang Kriteria dan Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah mengatur kembali syarat yang harus dipenuhi oleh setiap calon penumpang bila akan melakukan bepergian dengan menggunakan pesawat udara dengan lebih sederhana.

Hal itu diharapkan membuat penumpang lebih bbergairah melakukan pergerakan karena calon penumpang hanya membutuhkan bukti tes kesehatan seperti PCR atau rapid test dan atau surat keterangan kesehatan.

“Kami lihat perkembangan. Lion Air Group senantiasa mengikuti situasi terkini dan analisis,” jelasnya, Senin (22/6/2020).

Sementara itu, Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait menjelaskan dengan dibukanya okupansi menjadi 70 persen secara otomatis membuat maskapai lebih mandiri meraup pendapatan.

“Bisa mandiri dari segi revenue dibandingkan cost bisa mencapai break even [impas]. Apalagi kalau dibuka seratus persen bisa dibuat lagi kreasi harga, gimmick memancing orang terbang,” jelasnya.

Edward menjelaskan selama ini Lion Air group bisa kehilangan pendapatan rata-rata senilai Rp2,5 triliun per bulan akibat sepinya penerbangan sedangkan biaya operasional hanya berkurang 40 persen hingga 50 persen. Semenetara itu komponen pengeluaran lainnya juga tetap dibayar.

Kondisi dan perawatan pesawat harus tetap dilakukan dengan penggantian suku cadang secara rutin, kemudian pelatihan pilot juga terus dilakukan agar lisensinya tetap aktif. Edward melanjutkan biaya parkir pesawat juga harus dibayar kendati ada keringanan.

Namun, Edward menyebutkan pandemi yang pada November di China telah diprediksikan perusahaan menyebar, sehingga pihaknya mempersiapkan angkutan logistik ketika tidak ada penghasilan yang diterima dari penumpang hanya untuk menjaga agar tetap hidup.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lion air maskapai penerbangan
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top