Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Nasib Masa Depan Properti Perkantoran usai Pandemi Covid-19

Colliers International Indonesia menyampaikan prediksi masa depan properti perkantoran usai pandemi Covid-19.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  17:10 WIB
Seorag pria menelepon dengan latar belakang gedung perkantoran di kawasan bisnis terpadu Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta. - Antara Foto/Andika Wahyu.
Seorag pria menelepon dengan latar belakang gedung perkantoran di kawasan bisnis terpadu Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta. - Antara Foto/Andika Wahyu.

Bisnis.com, JAKARTA – Di saat pandemi virus Covid-19, investasi pada properti perkantoran cenderung dihindari. Selain karena kebutuhan akan perkantoran yang menyusut, serta jumlah pasoknya yang cukup tinggi membuat harganya tak bisa naik banyak. Lalu bagaimana nasibnya ke depan?

Senior Director Office Service Colliers International Indonesia Bagus Adikusumo mengatakan bahwa tekanan pada pasar properti perkantoran memang sudah terjadi bahkan jauh sebelum pandemi, tepatnya sejak 2016.

“Dari 2016 sudah terasa kondisi kelebihan pasokan. Tapi saat itu permintaan kantor masih tetap ada. Sampai tahun depan pun masih akan ada pasok masuk sampai 400.000 meter persegi. Jadi kondisi oversupply ini menurut saya masih akan terus berlanjut,” kata Bagus kepada Bisnis.com, Senin (22/6/2020).

Namun, setelah 2021, Bagus menuturkan balum ada lagi pengembang yang berencana menambah protofolio perkantoran. Hal itu lantaran dengan kondisi kelebihan pasokan seperti saat ini, akan sangat berisiko bagi pengembang jika makin menambah pasokan kantor.

Bagus menyebutkan tidak akan ada satu pun pengembang yang berani membangun kantor. Harapannya, perkantoran yang masih belum terserap dan terhambat transaksinya akibat Covid-19 bisa kembali pulih mulai 2021.

“Permintaan kantor diprediksi akan mulai naik, karena Produk Domestik Bruto [PDB] 2021 diperkirakan balik ke 3 persen. Properti kantor bergantung sekali dengan perekonomian dan PDB ini. Harapannya ini bakal menyerap pasok yang sudah ada,” imbuhnya.

Setelah itu, pada 2022 dan 2023, dengan minimnya tambahan pasok dan perkiraan pertumbuhan ekonomi yang positif, diperkirakan jumlah permintaan perkantoran bisa mengejar pasokan yang ada. Kondisi pasar perkantoran diperkirakan bisa mencapai ekuilibrium baru mulai 2025.

“Nanti prediksi saya 2024 itu mulai mengejar antara supply dan demand, jadi sudah mulai membaik. [Pada] 2025 mulai mencapai ekuilibrium baru, balance antara supply dan demand," ujarnya.

Kendati demikian, permintaan perkantoran akibat adanya aturan kerja dari rumah (work from home/WFH) selama pandemi bisa memperlambat pertumbuhan permintaan perkantoran ke depan. Banyak perusahaan yang bakal mempertimbangkan untuk tetap menerapkan aturan WFH tersebut meskipun pandemi sudah lewat.

WFH sendiri saat ini dinilai sejumlah perusahaan, terutama perusahaan multinasional, cukup sukses karena selain menghemat waktu, juga menghemat biaya dengan tingkat produktivitas yang sama dengan bekerja dari kantor.

Dengan kondisi tersebut, banyak perusahaan yang akan melakukan re-layout dan menyesuaikan kebutuhan ruang kantornya.

“Namun, dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, diperkirakan tidak akan mempengaruhi permintaan pada perkantoran. Karena perusahaan baru akan muncul, perusahaan yang sudah lama pasti akhirnya akan ekspansi, ini yang akan menyerap pasokan yang ada, selama tidak ada tambahan pasok baru,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti perkantoran
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top