Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Garuda Ingin Terbangi Kota Utama di Eropa, Dibantu Subsidi

Garuda Indonesia tengah mengusulkan model subsidi untuk melakukan penerbangan langsung ke kota utama di Amerika dan Eropa dengan pemerintah.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 19 Juni 2020  |  18:23 WIB
Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia bersiap melakukan penerbangan di Bandara internasional Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara akhir pekan lalu (8/1/2017). - Bisnis/Dedi Gunawan\n
Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia bersiap melakukan penerbangan di Bandara internasional Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara akhir pekan lalu (8/1/2017). - Bisnis/Dedi Gunawan\\n

Bisnis.com, JAKARTA – PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) tengah berdiskusi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk melakukan penerbangan langsung ke kota utama di Amerika dan Eropa dengan pola subsidi.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan upaya pengembangan pariwisata juga bukan hanya persoalan jumlah wisatawan, tetapi juga besarnya pengeluaran saat berada di negeri tujuan. Oleh karena itu, untuk merealisasikannya tak mungkin maskapai pelat merah dapat bersaing dengan maskapai lainnya hanya melalui hub.

Pihaknya menuturkan Menparekraf meminta Garuda untuk melayani penerbangan ke kota utama seperti Paris secara langsung, sehingga wisatawan langsung membelanjakan uangnya di kota tujuan tanpa perlu transit di negara lain.

“Ini kesempatan yang bagus dan menantang. Apakah Garuda sanggup menangani jalanan ke sana akan struggling pada awalnya, tapi ada diskusi dalam dengan Menteri Pariwisata [dan Ekonomi Kreatif] apakah mungkin jadwal penerbangan itu klasifikasinya model PSO [public servie obligation] bisa disubsidi pemerintah,” jelasnya, Jumat (19/6/2020).

Tak hanya itu, Irfan juga menyebut penting bagi Garuda setelah pandemi untuk melakukan transisi dan mengubah pengalaman terbang masyarakat.

Dia menuturkan saat ini jadwal penerbangan maskapai layanan penuh tersebut banyak yang kurang pas. Dia mencontohkan untuk penerbangan di Denpasar pesawat dari Australia baru mendarat mendarat pukul 19.00. Hal ini dapat menjadi kendala masyarakat untuk menghabiskan lebih banyak waktu dan memberikan nilai tambah ekonomi ke daerah tujuan.

“Kami siapkan proses transisi, review ubah jadwal dan tata caranya, sedemikian rupa sehingga experience memudahkan. Contoh lainnya dari Jakarta ke Lombok penumpang juga enggak banyak. Jamnya nggak ada yang pas. Hanya pagi atau jam 11.00. Jadi kami akan fokus ke jadwal dengan menyesuaikan kebiasaan bepergian,” ujarnya.

Di luar itu, maskapai juga melakukan penyesuaian jenis dan konfigurasi pesawat sesuai dengan tujuan internasional. Terlebih, selama ini masyarakat merasa lebih nyaman bepergian ke luar negeri menggunakan pesawat berbadan besar.

Ngapain terbang pakai ke Thailand pakai Boeing 737, semua ke luar negeri inginnya pakai pesawat besar. Makanya Garuda ke Bangkok enggak penuh amat. Kami tidak perhitungkan, kalau pesawat besar nyaman aman,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia maskapai penerbangan
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top