Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Defisit APBN Bengkak Jadi 6,34 Persen, Ekonom: Masih "Manageable"

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan penambahan defisit APBN menjadi Rp1.039,2 triliun atau 6,34 persen terhadap produk domesti bruto (PDB) berimplikasi pada peningkatan rasio utang terhadap PDB.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  19:46 WIB
Defisit APBN Bengkak Jadi 6,34 Persen, Ekonom: Masih "Manageable"
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan kondisi terkini perekonomian Indonesia dalam sebuah teleconference, Jumat (17/4) - Kementerian Keuangan (Screenshoot)
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan penambahan defisit APBN menjadi Rp1.039,2 triliun atau 6,34 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) berimplikasi pada peningkatan rasio utang terhadap PDB.

"Rasio debt to GDP 2020 diperkirakan masih manageable di kisaran 36-38 persen. Meskipun meningkat dari rasio utang terhadap PDB tahun 2019 yang tercatat sekitar 30 persen," katanya ketika dihubungi Bisnis, Rabu (3/6/2020).

Berdasarkan Perpres 54 tahun 2020, Pemerintah pada awalnya mengalokasikan tambahan stimulus sekitar Rp 405 triliun pada bulan April lalu, dan mendorong defisit hingga Rp582,9 triliun atau sebesar 5,07% PDB.

Data outlook terkini, pemerintah kembali mengalokasikan tambahan stimulus Program Pemulihan Ekonomi Nasional menjadi sekitar Rp677,2 triliun, di luar anggaran kesehatan, dan mendorong defisit APBN Rp1.039,2 triliun atau sekitar 6,34% terhadap PDB.

Perkembangan ini didasarkan oleh adanya penambahan alokasi dana untuk dukungan perusahaan BUMN berupa Penyertaan Modal Negara, talangan untuk modal kerja dan percepatan pembayaran kompensasi bagi perusahaan BUMN.

Josua menilai jika dibandingkan dengan Perpres 54 tahun 2020, pendapatan negara lebih rendah Rp62 triliun dengan penerimaan pajak tumbuh negatif 9,2 persen dan PNBP tumbuh negatif 27,8 persen. Dari sisi pengeluaran, tercatat adanya peningkatan Rp124,6 triliun dibandingkan Perpres No.54/2020.

"Peningkatan alokasi pengeluaran negara mengindikasikan pemerintah berupaya menekan penyebaran Covid-19 serta memberikan stimulasi pada sektor riil melalui PEN. Tujuannya agar roda perekonomian Indonesia segera pulih pascapandemi," jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan penambahan defisit APBN menjadi 6,34 persen masih sesuai dengan UU No 2/2020 di mana DPR menyetujui pelebaran defisit di tengah penanganan Covid-19, termasuk mitigasi dampak ekonomi dari pandemi virus Corona.

Menurut Josua, pelebaran defisit APBN Indonesia cenderung lebih rendah dibandingkan negara berkembang lainnya yang juga mengalami peningkatan defisit fiskal,

Meskipun terdapat potensi pelebaran defisit fiskal, dia memprediksi penyerapan belanja pemerintah pusat khususnya belanja barang dan perjalanan dinas diperkirakan tidak akan terserap secara optimal.

Dengan demikian, defisit APBN diperkirakan masih akan tetap manageable dan di bawah outlook pemerintah terbaru. Nantinya, proses pemulihan ekonomi dapat kembali mendekati level potensi sehingga produktivitas utang pemerintah juga meningkat.

"Untuk saat ini, pemerintah harus meningkatkan kualitas dari belanja khususnya belanja anggaran kesehatan, Jaring Pengaman Sosial, dukungan pada sektor usaha, serta alokasi stimulus program Pemulihan Ekonomi Nasional [PEN]," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi pdb gdp covid-19
Editor : Ropesta Sitorus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top