Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Ban Nasional Terancam Pabrikan Hasil Ekspansi Industriawan China

Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) menyarankan lima hal yang harus dilakukan pemerintah untuk melindungi pasar ban domestik dan meningkatkan daya saing
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 01 Juni 2020  |  17:39 WIB
Ilustrasi - Produk Ban - Istimewa.
Ilustrasi - Produk Ban - Istimewa.

Bisnis.com, JAKARTA – Ekspansi pabrikan ban dari China ke Asia Tenggara dinilai mengancam dominasi industri ban nasional.

Hal tersebut disebabkan oleh dugaan adanya subsidi dari pemerintah Negeri Tirai Bambu kepada pabrikan tersebut. Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) menyatakan pabrikan China melakukan ekspansi ke Thailand dan Vietnam.

Asosiasi mencatat pemerintah Amerika Serikat telah mengenakan bea masuk tambahan sebesar 217 persen untuk pabrikan China di Thailand dan 33 persen untuk pabrikan ban dari Vietnam.

"Indonesia harus hati-hati dalam pelaksanaan Intra Asean Trade karena yang dihadapi itu bukan sesama [pabrikan] ban dari Asia Tenggara, tapi dari raksasa ekonomi dari China yang telah relokasi pabriknya ke Asia Tenggara," ujar Ketua Umum APBI Azis Pane dalan keterangan resmi, Senin (1/6/2020).

Azis melanjutkan ancaman tersebut ditambah telah dibukanya 5 juta hektare kebun karet baru di Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam yang akan memasok bahan baku pabrik-pabrik tersebut.

Oleh karena itu, Azis menyarankan lima hal yang harus dilakukan pemerintah untuk melindungi pasar ban domestik dan meningkatkan daya saing.

Pertama, penyesuaian tarif gas ke level US$6/mmbtu sesuai Peraturan Presiden (Perpres) No. 40/2016.

Kedua, penghapusan pajak penambahan nilai (PPn) sebsar 10 persen dalam pembelian karet alam sebagai bahan baku industri ban. Ketiga, penyetujuan revisi standar nasional indonesia (SNI) ban.

Azis menilai persetujuan revisi SNI tersebut penting sebagai insturmen perlindungan teknis industri ban. Selain itu, lanjutnya, SNI tersebut dapat menunjukkan kualitas produk ban lokal di pasar global.

"Persetujuan revisi ini melalui surat keputusan Menteri Perindustrian telah cukup lama ditunggu oleh APBI," ucapnya.

Keempat, persetujuan aturan good manufacturing product (GMP) untuk industri vulkanisir. Kelima, rekomendasi kepada asosiasi untuk mengumpulkan data produksi pabrikan setidaknya sejak 2018.

Di sisi lain, Azis mendata utilitas industri ban nasional saat ini turun ke bawah level 60 persen. Menurutnya, halt tersebut disebabkan oleh tertundanya ekspor ban dalam bentuk ban maupun suku cadang otomotif dan berhentinya penjualan domestik

Azis menyatakan pemberlakuan protokol pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang tidak seragam membuat sebagian pabrikan ban menghentikan proses produksi, sementara sebagian lagi mesih menjalankan mesin dengan utilitas rendah.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china industri ban
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top