Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Stimulus Listrik Diperpanjang, Keuangan PLN Terbebani

Perpanjangan stimulus listrik ini merupakan langkah intervensi pemerintah untuk menjaga menangani pemulihan ekonomi.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 18 Mei 2020  |  21:00 WIB
Petugas PLN melakukan pemeriksaan listrik dengan protokol kesehatan. Istimewa - PLN
Petugas PLN melakukan pemeriksaan listrik dengan protokol kesehatan. Istimewa - PLN

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah memberikan perpanjangan stimulus keringanan listrik berupa pembebasan tagihan listrik daya 450 VA dan diskon 50 persen untuk daya 900 VA dari semula berlaku pada April hingga Juni kemudian diperpanjang sampai September.

Perpanjangan stimulus listrik ini merupakan langkah intervensi pemerintah untuk menjaga menangani pemulihan ekonomi.

Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Iwa Garniwa Mulyana mengatakan perpanjangan stimulus listrik ini tentu memberatkan PLN.

"Ini berat untuk keuangan PLN," ujarnya kepada Bisnis, Senin (18/5/2020).

Menurutnya, PLN harus melakukan efisiensi internal dan penjadwalan ulang proyek investasi. PLN juga harus melakukan renegosiasi kontrak Independent Power Producers (IPP) untuk harga beli listriknya yang berdasarkan Take or Pay (TOP) dan penjadwalan utang.

PLN dapat meminta pemerintah untuk membantu kesehatan keuangan PLN. "Selain itu juga meminta harga jual BBM (Bahan Bakar Minyak) dan BBG (Bahan Bakar Gas) diturunkan sesuai turunnya harga BBM dan BBG dunia turun," terang Iwa.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menuturkan kebijakan untuk memperpanjang stimulus sangat tepat dilakukan oleh pemerintah.

"Untuk stimulus listrik, saya kira tepat untuk diperpanjang sampai September," katanya.

Kendati demikian, perpanjangan program kebijakan stimulus listrik ini harus dibarengi dengan pemberian anggaran untuk 3 bulan ke depan yakni Juli hingga September dengan besarannya sama seperti April hingga Juni yang sekitar Rp3 triliun hingga Rp3,5 triliun.

"Ini akan masuk dalam perhitungan subsidi listrik dari pemerintah untuk PLN," ucap Fabby.

Sementara itu, Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai pemerintah juga perlu melalukan perluasan pemberian insentif tarif listrik untuk daya 900 VA non subsidi dan pelanggan 1.300 VA serta pelanggan UMKM selain melalukan perpanjangan insentif stimulus listrik.

"Tambahan dana yang dibutuhkan sekitar Rp6,5 triliun, yang harus ditanggung oleh negara, bukan PLN," tuturnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, jumlah pelanggan PLN secara keseluruhan sekitar 75,4 juta pelanggan dan pendapatan PLN dari penjualan sekitar Rp274 triliun per tahun atau sekitar Rp22,8 triliun per bulan.

Jumlah pelanggan PLN 450 VA dan 900 VA sekitar 55,7 juta pelanggan dengan pendapatan sekitar Rp53,2 triliun per tahun atau sekitar Rp4,4 triliun per bulan.

Lalu untuk jumlah pelanggan PLN 450 VA dan 900 VA bersubsidi sekitar 31 juta pelanggan dengan pendapatan sekitar Rp15,3 triliun per tahun atau sekitar Rp1,28 triliun per bulan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

PLN BUMN stimulus kinerja keuangan
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top