Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penundaan Rekrutmen Tenaga Kerja Jadi Tren

Penundaan rekrutmen tenaga kerja baru akan dilakukan banyak perusahaan sebagai strategi untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 18 Mei 2020  |  13:56 WIB
Pekerja pabrik pulang seusai bekerja di salah satu pabrik makanan di Jakarta, Sabtu (11/4/2020). Bisnis - Abdurachman
Pekerja pabrik pulang seusai bekerja di salah satu pabrik makanan di Jakarta, Sabtu (11/4/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA --Perusahaan Software as a Service (SaaS) melihat pengurangan tenaga kerja hingga penundaan rekrutmen baru akan dilakukan banyak perusahaan sebagai strategi untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19.

VP Marketing Mekari Standie Nagadi mengungkapkan bahwa dalam waktu singkat, beberapa sektor industri terkena imbas seperti pariwisata, ritel, hingga manufaktur. Tidak hanya itu, sektor lain yang terkena imbas dari pandemi Covid-19 adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

“Menurut data internal yang dirilis oleh Mekari, melalui produk Talenta, software HRIS & Payroll berbasis cloud, penundaan rekrutmen juga menjadi pilihan utama perusahaan dalam menangani permasalahan operasional dampak Covid-19,” tuturnya lewat siaran persnya, Senin, (18/5/2020).

Dia menjelaskan bahwa terjadi penurunan sebesar 26,5 persen pada perusahaan yang aktif melakukan rekrutmen.

Kemudian, data internal Talenta juga menunjukkan bahwa dari total perusahaan aktif, sebanyak 558 perusahaan masih melakukan perekrutan sebelum masa kerja dari rumah (WFH) diberlakukan, sementara saat WFH telah berjalan hanya ada 410 perusahaan yang masih merekrut karyawan baru.

Kemudian, sebanyak 64 persen perusahaan mengurangi jumlah karyawan yang direkrut saat periode WFH.

Menurutnya,  hal yang menarik dari data internal talenta yang dihimpun adalah sebanyak 25 persen perusahaan justru merekrut lebih banyak karyawan dari masa sebelum WFH dan 11 persen perusahaan merekrut karyawan dengan jumlah sama antara sebelum dan sesudah WFH dilaksanakan.

Sementara itu, ada penurunan 71,4 persen angka median jumlah karyawan baru yang direkrut setelah WFH. Sebelum masa WFH berlangsung, median total karyawan yang direkrut oleh perusahaan per bulannya mencapai 7 orang karyawan. Namun, saat WFH jumlah ini turun drastis di angka 2 orang karyawan per bulannya.

“Data yang kami hadirkan ini mengungkap bahwa di masa krisis ini, meskipun banyak perusahaan melakukan penyesuaian pada bisnisnya, masih ada perekrutan karyawan yang dilakukan meskipun jumlahnya tidak besar. Kami melihat ini menjadi salah satu langkah strategis yang dipilih perusahaan untuk mempersiapkan kembali produk atau jasa yang ditawarkan, sehingga saat pandemi berakhir perusahaan bisa menggerakkan bisnis lebih cepat,” ungkapnya.

Sebagai informasi, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat hingga 1 Mei 2020 ada 375.165 pekerja di sektor formal kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sedangkan 1.032.960 pekerja lainnya dirumahkan.

Sementara itu untuk sektor informal, sebanyak 314.833 pekerja juga terkena dampak COVID-19. Sehingga total pekerja sektor formal dan informal yang terdampak Covid- 19 sebanyak 1.722.958.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lapangan kerja Virus Corona Virus Corona
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top