Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kementan Prediksi Harga Bawang Merah Akan Turun Bulan Depan

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengakui harga bawang merah di tingkat konsumen relatif tinggi karena produksi komoditas tersebut pada bulan Mei ini minus sebesar 3.782 ton dari perkiraan kebutuhan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 Mei 2020  |  01:49 WIB
Petani mengeringkan bawang merah setelah dipanen di Kampung Cicayur, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/5/2019). - ANTARA/Raisan Al Farisi
Petani mengeringkan bawang merah setelah dipanen di Kampung Cicayur, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/5/2019). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pertanian memprediksi harga bawang merah akan kembali normal mulai Juni, seiring dengan produksi panen di bulan tersebut yang akan surplus atau melebihi perkiraan kebutuhan.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengakui harga bawang merah di tingkat konsumen relatif tinggi karena produksi komoditas tersebut pada bulan Mei ini minus sebesar 3.782 ton dari perkiraan kebutuhan.

"Bulan Juni sudah mulai ada sedikit panen. Insya Allah Juni kita ada surplus sekitar 5.296 ton," kata Prihasto, Selasa (12/5/2020).

Berdasarkan Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) per Selasa (12/5), harga rata-rata bawang merah nasional mencapai Rp52.000 per kg.

Berdasarkan data Early Warning System (EWS) Kementan, pada Mei ini produksi bawang merah diproyeksi hanya 82.051 ton, sedangkan kebutuhannya mencapai 85.833 ton, sehingga terdapat minus 3.782 ton.

Namun demikian, Prihasto memaparkan masih ada stok carry over dari bulan-bulan sebelumnya sebesar 78.785 ton. Stok tersebut tersebar di masyarakat, mengingat bawang merah yang bisa bertahan 1-2 bulan setelah dikeringkan.

Sementara itu, panen bawang merah pada Juni mendatang diperkirakan mencapai 86.474 ton dengan produksi tertinggi di Jawa Tengah. Jika dilihat dari kebutuhannya berkisar 81.178 ton, terdapat surplus bawang merah di bulan Juni mencapai 5.296 ton.

Prihasto menambahkan tingginya harga bawang merah dipengaruhi oleh musim tanam yang mundur, di mana musim hujan baru mulai sekitar Desember 2019. Akibatnya, petani lebih memilih menanam padi di lahan yang biasanya ditanami bawang merah.

Menurutnya, petani akan menanam bawang merah setelah tanam padi atau usai musim hujan. Hal itu karena jika penanaman bawang merah dilakukan saat musim hujan, biaya produksi akan lebih mahal dan ancaman serangan penyakit, serta potensi kebanjiran lebih rentan.

"Dalam situasi ini, petani merasa lega karena tahun 2019 lalu, mereka mengalami kerugian cukup besar saat bawang merah hanya dihargai Rp3.000 sampai Rp5.000 per kg, sekarang di level petani sudah di atas Rp30.000 per kg," kata Prihasto.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementan harga bawang merah

Sumber : Antara

Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top