Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Emirates Proyeksikan Industri Penerbangan Butuh Waktu Lama untuk Pulih

Pandemi corona yang melanda dunia, diperkirakan membuat industri penerbangan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih kembali.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 13 Mei 2020  |  22:46 WIB
Dubai Emirates - Istimewa
Dubai Emirates - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Emirates Airline memproyeksikan industri penerbangan membutuhkan waktu selama 18 bulan pascapandemi corona, untuk memulihkan kembali permintaan terhadap jasa perjalanan.

Chairman dan Chief Executive Officer (CEO) Emirates Airline and Group Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum menyimpulkan pandemi covid-19 akan memiliki dampak besar pada kinerja keuangan 2020-2021.

Kondisi tersebut disebabkan kebijakan perusahaan menangguhkan sementara operasi penumpang sejak 25 Maret 2020. Selain itu bisnis usaha grup lainnya yakni dnata sama-sama terpengaruh oleh merosotnya lalu lintas penerbangan dan permintaan perjalanan di seluruh dunia.

Sheikh menjelaskan sejauh ini telah mengambil langkah-langkah manajemen biaya yang agresif, dan langkah-langkah lain yang diperlukan untuk melindungi bisnis sambil merencanakan untuk memulai kembali bisnis.

“Kami berharap setidaknya akan memakan waktu 18 bulan, sebelum permintaan perjalanan kembali ke keadaan normal. Sementara itu, kami secara aktif terlibat dengan regulator dan pemangku kepentingan yang relevan, karena mereka bekerja untuk mendefinisikan standar untuk memastikan kesehatan dan keselamatan pelancong dan operator di dunia pascapandemi,” jelasnya, Rabu (11/5/2020).

Maskapai yang berbasis di Dubai tersebut pada tahun lalu juga secara cermat melakukan efisiensi biaya sambil berinvestasi untuk memperluas peluang bisnis dan pendapatan. Menurutnya, melalui tinjauan berkelanjutan terhadap struktur kerja dan penerapan sistem teknologi telah berhasil mengkatkan produktivitas dan peningkatan biaya tenaga kerja.

Selain itu, selama pandemi melanda telah mengambil semua langkah untuk melindungi tenaga kerja terampil kami, dan memastikan kesehatan dan keselamatan karyawan dan pelanggan. Hal ini, tekannya, akan tetap menjadi prioritas utama kami karena perusahaan menavigasi pengembalian bertahap ke dalam operasional dalam beberapa bulan mendatang.

Secara kinerja hingga akhir tahun lalu, total kapasitas penumpang dan kargo Emirates turun 8% menjadi 58,6 miliar ATKM pada akhir 2019-2020 akibatpembatasan kapasitas penutupan landasan pacu DXB dan dampak corona dengan penangguhan lengkap layanan penumpang seperti yang diarahkan oleh pemerintah Uni Emirates Arab selama Maret 2020.

Kinerja lalu lintas penumpang secara keseluruhan menurun empat persen karena Emirates mengangkut 56,2 juta penumpang sejalan dengan penurunan kapasitas tempat duduk sebesar 6 persen.

Namun, secara keseluruhan maskapai ini berhasil mencapai load factor sebesar 78,5 persen. Perkembangan positif dalam faktor kursi penumpang dibandingkan dengan pada tahun lalu sebesar 76,8 persen.

Manajemen berhasil mengelola kapasitas maskapai dan diikuti dengan tingginua permintaan perjalanan di hampir semua pasar sebelum terjadinya covid-19 pada kuartal IV/2019.

Emirates juga menerima enam pesawat baru selama tahun keuangan, semua A380. Selama 2019-20. Pesawat baru ini menggantikan enam pesawat tua yang terdiri dari empat Boeing 777-300ERs, 777-300ER terakhirnya dan satu pesawat angkut Boeing 777 sehingga jumlah armada tidak berubah pada 270 pada akhir Maret.

Hal ini memperkuat strategi Emirates untuk mengoperasikan armada muda dan modern, karena pesawat modern lebih baik untuk lingkungan, lebih baik untuk operasi, dan lebih baik untuk pelanggan.

Selama tahun ini, Emirates meluncurkan tiga rute penumpang baru yakni Porto (Portugal), Mexico City (Mexico) dan Bangkok-Phnom Penh. Ini juga melengkapi pertumbuhan jaringan organiknya dengan perjanjian codeshare baru yang ditandatangani dengan Spicejet yang akan memberi pelanggan Emirates lebih banyak opsi konektivitas di India.

Selain itu, Emirates memperluas konektivitas global dan proposisi pelanggan melalui perjanjian interline dengan Vueling menambahkan koneksi ke lebih dari 100 tujuan di seluruh Eropa melalui Barcelona, Madrid, Roma dan Milan; dengan maskapai berbiaya rendah Turki Pegasus Airline (PC), menawarkan pelanggan koneksi ke rute yang dipilih di jaringan PC ,dan dengan Interjet Airlines, membuka rute baru untuk penumpang yang bepergian antara Meksiko, Teluk, dan Timur Tengah dan sekitarnya.

Sementara itu Emirates mencatat kinerja pendapatan yang kuat selama kuartal II/2019 hingga kuartal III/2019. Namun penutupan landasan DXB dan krisis covid-19 di kuartal lain memengaruhi total pendapatannya untuk tahun keuangan berjalan dengan penurunan 6 persen menjadi US$ 25,1 miliar.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penerbangan emirates industri penerbangan
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top