Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Skenario Pemulihan Ekonomi Viral, Sri Mulyani Angkat Bicara

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah memang sedang menyusun kajian untuk memitigasi penanganan Covid-19 dari berbagai aspek. Namun, aspek kesehatan tetap menjadi pertimbangan utama.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 11 Mei 2020  |  10:58 WIB
Skenario Pemulihan Ekonomi Viral, Sri Mulyani Angkat Bicara
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan pemaparan dalam seminar Indonesia Economic & Investment Outlook 2020 di Jakarta, Senin (17/2/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Beberapa hari lalu, masyarakat mendapat infografis berjudul Pemulihan Ekonomi akan Dilakukan Indonesia secara Bertahap. Infografis tersebut menggambarkan fase-fase pembukaan kegiatan bisnis dan industri yang dimulai pada 1 Juni hingga Juli 2020.

Padahal, pemerintah di berbagai daerah masih memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penularan virus Corona (Covid-19).

Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah memang sedang menyusun kajian untuk memitigasi penanganan Covid-19 dari berbagai aspek. Meski demikian, dia menegaskan aspek kesehatan tetap menjadi pertimbangan utama.

"Kami memang sedang kaji berbagai kemungkinan agar dampak sosial-ekonomi dapat dikurangi. Namun, langkah-langkah ini tergatung data driven di lapangan," katanya dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (11/5/2020).

Dia menambahkan Presiden Jokowi dalam sidang kabinet juga melihat berbagai aspek tersebut. Jika mengacu pada data penyebaran Covid-19, lanjutnya, pemerintah mencari kemungkinan menyeimbangkan kebutuhan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan sambil membuat skema interaksi sosial pasca pandemi yang disebut new normal.

Menurutnya, strategi tersebut sudah dilakukan oleh beberapa negara Eropa yang terjangkit Covid-19, misalnya Inggris, Perancis, Italia, dan Spanyol. Negara-negara tersebut, kata Sri Mulyani, membuat kriteria kegiatan atau interaksi sosial-ekonomi mana saja yang bisa dan tidak bisa dilakukan.

"Indonesia melakukan kajian yang sama. Jadi kalau di WA[WhatsApp] Group beredar presentasi Pak Menko [Menko Perekonomian Airlangga Hartanto] itu yang dikaji. Termasuk kementerian lembaga lain akan meliat aspek-aspek secara seimbang, baik dari kesehatan, sosial, ekonomi, bahkan religius. Karena PSBB praktik melakukan ibadah bersama terbatasi. Kita akan melihat dari situ," imbuhnya.

Berdasarkan infografis yang beredar, pemerintah menyusun pemulihan ekonomi Indonesia yang akan dilakukan dalam lima fase. Fase I (1 Juni), pemerintah merelaksasi industri jasa dan business to business (B2B) dapat beroperasi dengan sosial distancing.

Fase II (8 Juni), pemerintah memperbolehkan toko, pasar, dan mall dapat dibuka tanpa diskriminasi sektor protokol ketat. Namun, usaha dengan kontak fisik (salon dan spa) belum boleh beroperasi.

Fase III (15 Juni), toko, pasar, dan mall tetap seperti fase II, tetapi ada evaluasi pembukaan salon dan spa. Pemerintah membuka sekolah, tetapi dengan jumlah terbatas.

Fase IV (6 Juli), pemerintah membuka kegiatan ekonomi seperti di fase III dengan tambahan evaluasi untuk pembukaan restoran, kafe, gym, dan dibolehkannya perjalanan ke luar kota dengan pembatasan jumlah penerbangan.

Fase V (20 dan 27 Juli), evaluasi fase IV dan pembukaan tempat-tempat kegiatan ekonomi dan sosial dalam skala besar. Akhir Juli atau awal Agustus, pemerintah berharap seluruh kegiatan ekonomi dibuka kembali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sri mulyani Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top