Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Kargo Lebih Murah, Maskapai Penumpang Picu Persaingan Tak Sehat

Mekanisme menjual ruang kargo murah tersebut berbeda masing-masing maskapai, ada yang menjual memang sejak awal menggunakan harga yang murah.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 03 Mei 2020  |  19:41 WIB
Sejumlah pesawat terpakir di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (24/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Sejumlah pesawat terpakir di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (24/4/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Kemunculan maskapai penumpang yang mengangkut kargo udara memberikan harga lebih murah hingga 31 persen jika dibandingkan dengan harga kargo udara normal membuat terjadinya persaingan yang semakin tidak sehat di aktivitas kargo udara.

Ketua Bidang Transportasi dan Infrastruktur Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik (Asperindo) Hari Sugiandi mengatakan saat ini anggota Asperindo menyewa pesawat mandiri untuk mengangkut kiriman paket yang harus di distribusikan ke berbagai daerah.

Dia menyebut kemunculan sejumlah maskapai penumpang sebagai angkutan kargo tersebut sebenarnya tidak masalah, tetapi yang terjadi saat ini adalah adanya pemberian harga yang jauh di bawah harga pasar biaya pengiriman kargo udara.

"Sayangnya jual harga pengiriman kargo udara itu yang diumumkan resmi senilai Rp77.300 per Kg, sementara maskapai swasta penumpang menjualnya dengan harga Rp53.000 per Kg. Ini otomatis tidak membangun UKM yang sudah berjalan, sudah ada, kenapa [mereka] tidak ikuti harga itu," katanya kepada Bisnis, Minggu (3/5/2020).

Dia menyebut persaingan semakin ketat karena seluruh maskapai penumpang ikut bermain di pengangkutan kargo udara, sebut saja Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya, Lion Air, dan NAM Air.

Memang nyatanya ketika pesawat penumpang tidak beraktivitas dan parkir di hanggar akan merugikan maskapai, tetapi mengaktifkannya dengan prinsip jual rugi pun menurutnya bukanlah hal yang baik.

"Dengan demikian, saat ini terjadi saling tarik pelanggan pengguna kargo udara, padahal sekarang maskapai yang jual murah, berjalan pun rugi," katanya.

Mekanisme menjual ruang kargo murah tersebut berbeda masing-masing maskapai, ada yang menjual memang sejak awal menggunakan harga yang murah, ada pula yang menjual dengan bonus cashback atau uang kembali hingga 30 persen.

Terpisah, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra enggan mengomentari terkait perang tarif di industri kargo udara akibat kedatangan maskapainya dan maskapai penumpang lain di bisnis ini di tengah musim sepi penumpang akibat pandemi virus Corona.

"Saya hanya minta tim fokus di peningkatan kargo udara karena ada kepentingan logistik bangsa ini yang harus dijaga," kata Irfan kepada Bisnis.

Dia pun membenarkan Garuda melayani aktivitas kargo udara menggunakan pesawat udara yang biasa digunakan untuk penumpang, sehingga konfigurasi bangku penumpang pun masih ada dan kargo disimpan di kursi penumpang.

Layanan kargo udara 'dadakan' ini dibuka untuk seluruh rute yang memang dilintasi penerbangan penumpang selama ini.

"Ke kota dimana kami selama ini memiliki jalurnya," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kargo udara maskapai penerbangan Virus Corona
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top