Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengembang Besar Paling Terimbas Covid-19

Pengembang besar umumnya memiliki portofolio yang menyentuh segala subsektor properti seperti residensial, apartemen, perkantoran, ritel hingga hotel.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 28 April 2020  |  18:43 WIB
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan perumahan di Bogor, Jawa Barat, Senin (30/3/2020). - Bisnis/Abdurachman
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan perumahan di Bogor, Jawa Barat, Senin (30/3/2020). - Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA — Konsultan properti menilai bahwa pengembang besar paling terkena dampak virus corona jenis baru atau Covid-19 sehingga berpeluang besar adanya koreksi target prapenjualan atau marketing sales sepanjang tahun ini.

Menurut Associate Director Coldwell Banker Commercial Dani Indra Bhatara, hal ini lantaran pengembang besar memiliki produk dan portofolio di berbagai sektor properti baik yang bersifat jual maupun pendapatan berulang.

Pengembang besar umumnya memiliki portofolio yang menyentuh segala subsektor properti seperti residensial, apartemen, perkantoran, ritel hingga hotel.

Dani menilai keadaan saat ini telah berpengaruh terhadap kedua sifat tersebut. Pada kuartal I/2020, sudah terlihat adanya penurunan penjualan di sektor residensial hingga apartemen meskipun hanya dalam rentang waktu 2 hingga 3 minggu.

Apalagi, penjualan negatif paling terasa untuk subsektor apartemen yang didominasi oleh investor sehingga lebih terpengaruh. Investor cenderung melihat dan menunggu perkembangan kasus Covid-19 ini dan pengaruhnya terhadap perekonomian secara umum. 

"Kondisi ini tentu masih akan terjadi selama wabah Covid-19 belum teratasi," kata Dani kepada Bisnis, Selasa (28/4/2020).

Sementara itu, subsektor hotel yang notabene merupakan pendapatan berulang juga dinilai paling terdampak.

Dani memprediksi kuartal kedua merupakan kinerja terendah dari subektor tersebut dan terus berlangsung selama wabah ini masih terjadi.

Adapun, subsektor perkantoran terbilang masih stabil dari sisi tingkat hunian. Hanya saja, proses hunian baru, ekspansi, maupun relokasi dinilai akan sangat terhambat. Melambatnya proses ini dinilai sudah terjadi, bahkan sejak Februari lantaran calon penyewa dari luar negeri sudah terpengaruh oleh kondisi corona di negaranya.

Begitu juga dengan subektor ritel yang terhambat proses hunian baru dari calon penyewa akibat tidak operasinya mal.

Dengan melihat dampak yang hampir merata di segala subsektor tersebut, kata Dani, minimal sekitar 20 persen hingga 25 persen kinerja pada tahun ini akan terpengaruh mengingat corona memiliki efek terhadap bisnis properti secara umum.

"Kemungkinan ada peluang untuk merevisi targetnya, tentunya hal ini disikapi dengan hati-hati. Saat ini mungkin terlalu dini bagi mereka untuk melakukan hal tersebut karena mereka masih mengharapkan dapat mengejar penurunan pada bulan ini dengan memaksimalkan penjualan pada paruh kedua tahun ini," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

properti Virus Corona
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top