Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Mamin Usulkan Pengurangan Bea Masuk Bahan Baku

Sulitnya mendapatkan bahan baku dari impor yang ditambah pula oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, membuat para pelaku usaha makanan dan minuman meminta adanya pengurangan bea masuk sebagai insentif.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 27 April 2020  |  21:58 WIB
Pekerja menyusun aneka jenis minuman kaleng di salah satu grosir penjual makanan dan minuman kemasan di Pekanbaru, Riau, Senin (12/6). - Antara/Rony Muharrman
Pekerja menyusun aneka jenis minuman kaleng di salah satu grosir penjual makanan dan minuman kemasan di Pekanbaru, Riau, Senin (12/6). - Antara/Rony Muharrman

Bisnis.com, JAKARTA – Para pelaku usaha sektor makanan dan minuman mengusulkan adanya relaksasi bea masuk untuk sejumlah komoditas, demi menekan kerugian yang dialami pengusaha di tengah wabah corona.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi S. Lukman menilai, kebijakan itu diperlukan seiring masih berlanjutnya tren penurunan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, sehingga pelaku usaha yang masih tergantung pada bahan baku impor pun harus merogoh kocek lebih dalam.

"Salah satu bahan baku yang masih dikenai bea masuk adalah biji kakao sebesar 5 persen. Padahal impor produk jadi, terutama dari negara Asia Tenggara bebas bea masuk sehingga daya saing kita terganggu," ujarnya dalam rapat dengar pendapat virtual berasam Komisi VI DPR RI pada Senin (27/4/2020).

Adhi pun mengemukakan bahwa kondisi ini turut diperburuk dengan menurunnya penjualan. Dari sejumlah sektor produksi makanan dan minuman, Adhi mengatakan industri minuman kemasan merupakan sektor yang merasakan penurunan paling besar.

Adapun sejumlah sektor yang masih membukukan penjualan yang positif mencakup produk minyak untuk memasak, bumbu-bumbuan, produk susu, makanan sarapan, daging olahan, mie instan, makanan kering, dan biskuit.

Terlepas dari laporan positif tersebut, Adhi mengemukakan penjualan yang positif cenderung hanya terjadi untuk segmen pasar modern menyusul sempat terjadinya aksi pemborongan oleh masyarakat pada awal penerapan pembatasan fisik. Sementara pada penjualan umum di segmen pasar grosir di tingkat daerah, Adhi menyebutkan terjadi penurunan.

"Sektor yang masih bagus penjualannya kebanyakan di segmen pasar modern, di pasar umum atau general trade cenderung menurun karena ada usaha grosir di daerah-daerah atau pasar yang dibatasi operasionalnya," ujar Adhi.

Kontribusi penjualan pada segmen pasar modern pun sejatinya masih rendah, sekitar 26 – 27 persen. Sementara pada penjualan pada segmen pasar umum, kontribusi cenderung lebih besar di kisaran 71 – 73 persen dari total keseluruhan.

Adhi menyebutkan bahwa terdapat tren penjualan produk makanan dan minuman sampai 600 persen di kanal-kanal dagang elektronik. Kendati demikian, kenaikan ini belum bisa sepenuhnya menutup hilangnya penjualan di pasar umum lantaran porsinya yang masih rendah dari total penjualan.

"Basis penjualan online masih kecil, di kisaran 1 sampai 2 persen saja," paparnya.

Adapun berdasarkan suvei yang dilakukan Gapmmi pada anggota dengan responden berjumlah 63 pelaku usaha, sebanyak 60,3 persen meyakini bahwa larangan mudik yang diberlakukan pemerintah akan berpengaruh terhadap penjualan produk makanan dan minuman. Jumlah penurunan pun bervariasi dengan 71,4 persen responden memperkirakan penurunan berkisar di angka 20 sampai 40 persen

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

impor gapmmi bahan baku
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top