Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja Manufaktur Tertekan, Industri Mamin dan Tembakau Masih Ekspansif

Data Bank Indonesia (BI) berdasarkan Prompt Manufacturing Index (PMI) yang dirilis pada Senin (13/4/2020), mengalami kontraksi, yaitu turun menjadi 45,64 persen, dari yang sebelumnya 51,50 persen pada kuartal IV/2019.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 13 April 2020  |  12:41 WIB
Warga menjemur tembakau rajangan di lapangan Desa Ngadimulyo, Kedu, Temanggung, Jateng, Rabu (13/9). - ANTARA/Anis Efizudin
Warga menjemur tembakau rajangan di lapangan Desa Ngadimulyo, Kedu, Temanggung, Jateng, Rabu (13/9). - ANTARA/Anis Efizudin

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja industri pengolahan pada kuartal I/2020 menunjukkan penurunan akibat dari mewabahnya Covid-19.

Data Bank Indonesia (BI) berdasarkan Prompt Manufacturing Index (PMI) yang dirilis pada Senin (13/4/2020), mengalami kontraksi, yaitu turun menjadi 45,64 persen, dari yang sebelumnya 51,50 persen pada kuartal IV/2019.

Sementara jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, kinerja tahun ini terlihat turun signifikan. Pada kuartal I/2019, PMI BI tercatat sebesar 52,65 persen.

Kontraksi tersebut terjadi hampir pada seluruh sub sektor ekonomi, kecuali industri makanan, minuman, dan tembakau.

Pada kuartal I/2020, indeks sub sektor makanan, minuman dan tembakau berada pada level 50,44 persen. Ketiga sektor ini tetap ekspansi meskipun tercatat lebih rendah dari 52,47 persen pada kuartal sebelumnya maupun pada kuartal I/2019 yang sebesar 52,19 persen.

Di sisi lain, BI mencatat berbagai sub sektor lainnya terindikasi mengalami kontraksi. Sub sektor yang mengalami kontraksi terdalam yaitu sub sektor logam dasar, besi dan baja dengan indeks yang tercatat sebesar 36,89 persen.

Kemudian, penurunan yang dalam diikuti oleh sub sektor semen dan barang galian non logam dengan indeks sebesar 40,26 persen, serta alat angkut, mesin dan peralatannya dengan indeks sebesar 41,28 persen.

Sementara pada kuartal II/2020, diprediksikan beberapa sub sektor masih akan mengalami kontraksi di antaranya pupuk, kimia dan barang dari karet dengan indeks sebesar 45,11 persen; logam dasar, besi dan baja 45,25 persen; tekstil, barang kulit dan alas kaki 47,21 persen.

Sub sektor lainnya adalah alat angkut, mesin dan peralatannya dengan indeks sebesar 48,20 persen, serta barang kayu dan hasil hutan lainnya yang sebesar 49,68 persen.

Sub sektor yang diperkirakan masih akan ekspansi pada kuartal II/2020 yaitu makanan, minuman, dan tembakau dengan indeks 51,15 persen, kertas dan barang dari cetakan 51,12 persen, serta sub sektor semen dan barang galian non logam 50,53 persen.

Sub sektor tersebut yang diprediksi akan menjadi faktor pendorong peningkatan indeks PMI-BI secara keseluruhan pada kuartal kedua tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur tembakau industri mamin
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top