Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Kimia: Kapasitas Produksi Kuartal II/2020 Bisa Turun 40 Persen

Banyaknya industri hilir yang mulai tidak beroperasi pascawabah corona, membuat kapasitas produksi industri kimia mengalami penurunan.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 21 April 2020  |  13:45 WIB
Ilustrasi / Produks kimia dasar / Istimewa
Ilustrasi / Produks kimia dasar / Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku indusri kimia dasar memproyeksikan kapasitas produksi pada kuartal II/2020 bisa anjlok hingga 40 persen, mengingat banyak  industri hilir yang mulai tidak beroperasi.

Ketua Umum Asosiasi Kimia Dasar Anorganik (Akida) Michael Susanto Pardi mengatakan, pada kuartal I/2020 yang belum sepenuhnya dipengaruhi oleh tekanan Covid-19, penurunan kapasitas produksi sudah turun 10 persen dibandingkan dengan kuartal IV/2019. Penurunan produksi terbesar dialami oleh bahan baku industri komponen bangunan. 

Adapun rerata utilisasi pada kuartal I/2020, industri kimia dasar anorganik berada di level 50-70 persen. Michael menyebutkan saat ini pun seluruh perusahaan anggota Akida masih beroperasi.

Namun, adanya industri yang mulai melakukan penurunan produktivias hingga melakukan tutup sementara tentu akan membawa pengaruh ke depan. 

"Sepengetahuan saya otomotif, elektronik, dan konstruksi beberapa sudah menurunkan produksi atau setop sementara. Kimia dasar merupakan industri hulu jadi efeknya mungkin akan terjadi 3-6 bulan ke depan tergantung industri hilir apakah tetap jalan atau tidak. Prediksi kami kapasitas produksi kuartal ini akan turun lagi 10-40 persen," katanya kepada Bisnis, Selasa (21/4/2020).

Michael mengemukakan hal ini menjadi efek ganda dari penurunan permintaan akibat Covid-19 karena dampak PSBB dan juga dari periode lebaran. Terlebih usai lebaran, daya beli masyarakat umumnya juga menurun.

Menurut Michael, skenario terburuk kemungkinan akan terjadi pada kuartal IV/2020 dengan perkiraan penurunan kapasitas produksi kembali mencapai kisaran 40-50 persen. 

Restriksi arus barang yang tinggi dapat membuat utilitas pabrikan kimia dasar nasional menjadi 0 persen alias menghentikan produksi total. 

Saat ini, Michael mencatat setidaknya ada 21 sektor manufaktur yang membutuhkan produk kimia dasar anorganik di dalam negeri. Adapun, produk tersebut diproduksi oleh sekitar 25 unit industri. 

Dari sisi bahan baku, Michael menyatakan sekitar 40-60 persen dari total kebutuhan bahan baku pabrikan kimia dasar masih bergantung pada impor. Menurutnya, ketersediaan bahan baku hanya dapat menunjang produksi hingga medio kuartal II/2020. 

Michael berujar saat ini pabrikan juga dilanda oleh pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Namun demikian, dampak pelemahan kurs tersebut tidak terlalu besar lantaran posisi harga bahan baku kimia dasar saat ini pada posisi yang rendah karena resesi global.  

Di sisi lain, meski sudah ada Keputusan Menteri ESDM tentang penurunan harga gas tetapi pihaknya masih menunggu kepastian yang akan didapat. Artinya, implementasi belum terjadi. 

"Sekarang yang bisa kita lakukan seperti perusahaan-perusahaan pada umumnya yakni reduce operating cost, setop capex, dan restructuring long term loan," ujarnya. 

Michael mengemukakan tantangan utama saat ini tentu dari sisi penjualan turun yang berakibat pada penurunan produksi dan seterusnya. Padahal, industri kimia adalah industri yang padat investasi. 

"Jadi selain menanggung biaya tenaga kerja, kami juga harus cover biaya depresiasi investasi dan juga financing cost dari investasi mesin dan lainnya, sedangkan biaya opex bulanan tidak bisa tiba-tiba direduce dengan drastis," kata Michael.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri kimia Virus Corona kapasitas produksi
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top