Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Karantina Wilayah, Distribusi Produk Industri Tidak Boleh Terganggu!  

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mematikan produk industri terkait makanan dan minuman (mamin) masih mencukupi.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 29 Maret 2020  |  22:47 WIB
ilustrasi - Sejumlah rak yang memajang produk mie instan kosong di sebuah supermarket di Shah Alam, Selangor, Malaysia, Selasa (17/3/2020). Setelah Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mengumumkan Malaysia melakukan lockdown nasional, sejumlah supermarket diserbu masyarakat - Bloomberg/Samsul Said
ilustrasi - Sejumlah rak yang memajang produk mie instan kosong di sebuah supermarket di Shah Alam, Selangor, Malaysia, Selasa (17/3/2020). Setelah Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mengumumkan Malaysia melakukan lockdown nasional, sejumlah supermarket diserbu masyarakat - Bloomberg/Samsul Said

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mematikan produk industri terkait makanan dan minuman (mamin) masih mencukupi. Sejumlah produk yang tidak mampu diproduksi maksimal di dalam negeri akan dipenuhi dengan impor.

Direktur Industri Makanan Kemenperin Enny Ratnaningtyas menyebutkan secara umum pasokan tidak mengkhawatirkan. Saat ini permasalahan yang menjadi perhatian adalah terhambatnya pengiriman produksi dikarenakan karantina lokal di sejumlah wilayah. Padahal pengiriman produk industri sepanjang Maret-April 2020 ini akan menjadi stok penjualan di bulan Ramadhan.

"Menteri Perindustrian sudah mengimbau industri mamin tetap harus dijaga produksi dan distribusinya mengingat [industri mamin] mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan, sekaligus menjaga stabilisasi ekonomi [nasional]," kata Enny, Minggu (29/3/2020).

Selain memastikan produksi, Enny mengharapkan para pemilik usaha juga memastikan keselamatan kerja. Imbauan jaga jarak, hingga alat pelindung diri bagi tenaga kerja harus tersedia.

Adapun, Kemenperin mencatat data produksi dari dua produk penting saat ini yakni mie instan dan biskuit pada tahun ini diperkirakan mencapai 3 juta ton.

Jika diperinci, pabrikan mi instan pada tahun ini diramalkan akan memproduksi 1,16 juta ton dengan alokasi ekspor sekitar 11,26 persen atau 131.000  ton. Adapun, kebutuhan dalam negeri diperkirakan sekitar 1,04 juta ton hingga akhir 2020.

Sementara itu, produksi biskuit pada tahun ini akan mencapai 1,88 juta ton dengan alokasi ekspor baru mencapai 7,49 persen atau 141.000 ton. Enny mencatat kebutuhan biskuit di dalam negeri mencapai 1,75 juta ton.

Senada, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) menyatakan mengingatkan karantina penuh atau protokol penguncian (lockdown) bisa berdampak sistemik ke perekonomian nasional.

Dampak sistemik ekonomi bisa terjadi. Misalnya yang sederhana, siapa yang menanggung pendapatan masyarakat kelas bawah yang mengandalkan usaha yang bersifat harian?" ujar Ketua Gapmmi Adhi Lukman dalam keterangan tertulis.

Adhi melanjutkan implementasi lockdown juga bisa berdampak pada kemampuan pabrikan dalam membayar pinjaman dari sektor perbankan. Selain itu, lanjutnya, penerapan lockdown juga akan berdampak pada kemampuan pabrikan menjaga serapan tenaga kerja.

Oleh karena itu, Adhi menyarankan agar seluruh pihak bertanggung jawab untuk tidak membantu penyebaran virus corona atau Covid-19 lebih luas. Menurutnya, kepedulian tersebut dimulai dengan berdiam diri bagi yang dapat bekerja dari rumah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri gapmmi
Editor : Anggara Pernando
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top